Revisi soal oli HDEO vs JASO MA, harusnya JASO MA yang lebih bagus, tapi…


Sebelumnya penulis menyarankan bahwa untuk motor, maka baiknya beli oli khusus motor, kasarannya, JASO MA. Tapi pendapat ini munculnya sebelum penulis lebih banyak mencoba oli yang untuk motor beneran. Dan penulis lupa karakter konsumennya juga.

Kalau dibagi berdasarkan awareness, maka konsumen itu bisa dibagi 2. Yang satu adalah tipe yang keyakinannya lebih penting dari pengalaman. Yang satu lagi adalah yang pengalaman lebih penting dari keyakinan.

Yang pertama itu biasanya adalah konsumen MCO dan PCMO. Yang kedua biasanya adalah konsumen HDEO.

Rasanya ini membuat pabrikan juga mengambil sikap berbeda terhadap konsumen ini. Konsumen tipe pertama itu percaya sekali sama yang namanya API dan rekomendasi pabrikan. Sementara konsumen tipe kedua itu rasanya lebih berdasar pada sharing pengalaman antar supir. Bahkan sepertinya ada juga yang serius dalam membandingkan.

Itu analisa. Yang bisa benar bisa salah. Kita sekarang bicara fakta saja. Apakah oli motor itu baik? Sayangnya secara keseluruhan penulis bilang tidak.

Apakah oli mobil itu baik untuk motor? Sayangnya secara keseluruhan penulis juga bilang tidak.

Penulis sekarang harus mengakui bahwa kalau mau aman, pilihan jatuh pada oli HDEO. Ini karena sepertinya dari pabrik olinya tidak mau ambil resiko. Rasanya para pemakai HDEO itu beda dari pemakai PCMO atau MCO, yang kalau misal mesin rusak, nggak akan pernah menyalahkan oli. Sementara itu kalau dari pemakai HDEO rasanya bakal menyalahkan oli juga. Jadi untuk menjaga reputasi, pabrikan oli tidak akan main main dengan oli versi diesel.

Bisa kita lihat sendiri, bahwa ketika MCO dan PCMO sudah beralih ke yang lebih encer dengan alasan lingkungan, oli HDEO banyak yang masih bertahan dengan resep lama dengan kekentalan yang masih termasuk tidak berubah. Dari pabrikan sendiri sepertinya juga tidak berani sembarangan menghilangkan merek. Beda dari MCO atau PCMO yang bisa mendadak muncul merek baru menggantikan merek lama.

Sementara itu penulis jumpai banyak MCO atau bahkan PCMO yang sebenarnya tidak layak dipakai di motor karena kualitas yang kurang memadai. Terutama sih dari bahan olinya, lalu dari adifif VI improvernya. Yang parah itu adalah yang bahkan aditifnya pun terlalu minimalis. Untuk merek merek seperti ini, terpaksa harus diakui bahwa menggunakan oli versi JASO MA dari mereka itu tidak aman.

Spekulasi ini tentu tidak berlaku untuk merek merek yang menurut penulis bagus, seperti misalnya Repsol dan Bardahl. Untuk kedua merek itu, maka yang paling ideal untuk motor, termasuk yang matik, adalah yang versi JASO MA. Penulis tidak sarankan versi PCMO atau HDEO.

Tapi untuk merek merek yang menurut penulis kualitas bahan olinya jelek, seperti misalnya Adnoc, PTT, Valvoline, Eneos, Motul, Shell dll, maka penulis lebih rekomendasikan oli diesel karena mestinya pabrikan oli nggak bakal pamer VI yang tinggi atau SAE yang encer sekali.

Yang bikin puyeng juga adalah pertamina. Pertamina tidak punya oli selevel dengan fastron yang untuk motor. Versi diesel dari fastron bisa dikatakan masih termasuk encer, cocoknya daerah dingin. Dan ada yang bilang kalah dari merek lain, misalnya shell atau delvac. Justru yang lebih diakui adalah oli oli lama dari pertamina seperti misalnya mesran SAE 40 atau meditran S SAE 40.

Kalau tahu kebutuhan kekentalan dari motor juga akan lebih spesifik. Seperti misalnya kalau penulis pilih merek baru, maka penulis akan coba PCMO karena PCMO memberikan pilihan xxW50 dan dengan aditif yang pastinya lebih komplit / mahal daripada versi JASO MB atau JASO MA. Versi HDEO jarang yang menyediakan xxW50.

Tapi balik lagi, kalau misal ada orang yang sama sekali tidak tahu soal oli, memang amannya adalah oli HDEO. Tapi kalau sudah tahu mana merek yang tidak ngawur, pabriknya tahu cara buatnya, pabriknya tidak kompromi saat buat olinya, baru bisa pilih oli yang khusus untuk motor. Karena memang kebutuhan untuk motor itu beda dari PCMO atau HDEO.

Tapi itu tentu adalah generalisasi. Nanti penulis revisi lagi kalau sudah coba stok di rumah oli HDEO dari Win, Delvac MX, Rimula R4X, Rimula R2, Valvoline XLD, dst. Moga moga nggak kecewa lagi.

Perlu jadi catatan juga bahwa kasus castrol GPS bisa jadi contoh bagaimana filosofi pabrikan bisa berubah. Di jaman castrol GPS (tahun 90an) maka pilihan oli untuk motor tentu lebih sip castrol gps daripada oli HDEO. Di jaman castrol power 1, kualitas oli sudah nggak selevel lagi dengan castrol gps. Penulis nggak akan heran bila pemakai castrol GTX akan lebih puas daripada pemakai castrol power 1. Sepertinya hal yang sama berlaku untuk exxon dan shell.

Versi video:

11 respons untuk ‘Revisi soal oli HDEO vs JASO MA, harusnya JASO MA yang lebih bagus, tapi…

  1. Kalau begitu apakah pakai Mesran sae40 yg ada b nya akan lebih baik dari yg tanpa b?
    Kemarin salah satu motor bebekku kuganti oli pakai Castrol Magnatec 5w30 sisa mobil tanpa campuran migor, ternyata lebih enak dari Mesran sae40 sebelumnya….

    Suka

    • enak di sisi apa ya? apakah lebih halus? Bila dari sisi itu, memang mesran minim aditif. Apakah sudah coba membandingkan akselerasi dan top speed?

      Yang B lebih sip pembersihan. Tanpa B lebih lega tenaganya.

      Suka

      • Iya lebih halus suara dan getarannya, tapi akselerasi seperti agak tertahan, untuk top speed tidak tahu karena satriaku baru tembus 90km/jam harus ngerem lagi karena jalur PP ku selalu ramai.. kalau Mesran halusnya harus campur migor.
        Berarti sesekali pakai yg b untuk pembersihan mungkin bagus yah..

        Suka

        • sip, kalau seperti itu memang sepertinya karena menang aditif. Wah ajaib juga nggak selip kopling pakai PCMO ya. Iya, pakai yang B untuk pembersihan bakal sip.

          Suka

  2. Rasanya nasih pegang fastron lah, perbandingan antara harga dan kualitas masih yang paling bagus, walaupun ada godaan dari merk merk import

    Suka

    • kalau untuk fastron, saya cuma unggulkan yang ungu saja. Kalau yang 10W40 kalah jauh dengan mesran sae 40. Dibanding fastsron, saya lebih pilih repsol jaso ma sih.

      Suka

  3. Menurut opini pribadi berdasarkan pengalaman di motor pribadi ane ( Blade KWB, Scoopy K16 dan K81, Supra X KPH ) dan teori yang ane baca

    Oli MCO, PCMO dan HDEO itu ngga beda signifikan kualitasnya dalam rentang harga yang sama, kekentalan yang sama dan yang pasti harus asli ( ngga usah ngomongin oli aspal, pasti hasilnya jelek )

    Yang penting oli itu harus mempunyai base oil yang baik terlebih dahulu dibandingkan aditif oli. Kenapa? karena mesin motor itu berikitir dengan kencang dibandingkan mesin mobil ataupun truk. Sayangnya base oil yang bagus itu ada diatas 100 ribuan ( seperti Amsoil Metric ).

    Bagaimana jika tidak ada base oil yang bagus untuk harga yang lebih murah? pilihlah yang kekentalan yang lebih kental 1 tingkat dibandingkan standarnya ( terlebih untuk user yang demen mainin gas ala racing ) dan pilih VI tidak lebih dari 110 ( klo ngga salah masuk grup 2 ). Dan ingat jangan pernah berharap long drain, karena yang dikejar adalah kenikmatan ala mesin ICE. Bagaimana dengan merk dan tipe oli? ane kurang suka merekomendasikan karena feel mesin itu tidaklah sama. Silahkan coba sendiri.

    Semakin panas suhu kerja mesin, tentu harus memilih oli dengan kekentalan yang lebih kental dibandingkan standarnya. Karena dalam pemakaian yang keras dan lama, kekentalan oli memang terbukti mampu menjaga performa mesin dari salah satu segi indikator saja. Apa tidak bisa memakai oli kekentalan standar atau lebih encer? bisa, tapi punya limitasi yang lebih pendek atas performa mesin ( dengan pemakaian tertentu )

    Karakter standart oli seperti API atau ACEA itu bisa menggambarkan sepintas karakter oli tanpa memperhatikan kualitas oli ( ingat base oil dan aditif penyusunnya ), tapi semakin modern standart oli, sepertinya feelnya itu makin kasar jika base oilnya ngga begitu bagus ( untuk pemakaian ala racing, klo betot gasnya halus ya tidak kerasa perbedaan signifikan ) dan semakin jelas di beberapa merk motor ( seperti Yamaha karena teknologi mesinnya dibandingkan Honda ). Bisnis otomotif itu sangat gurih… perputaran sparepart, oli dan bensin itu rebutan banyak orang. Banyak pula yang pasang embel-embel Fully Sintethic padahal lihat di MSDS isinya yah base oil level 2 atau 3 ( tidak tahu kualitas olinya , cuma ketambahan bumbu yang gurih )

    Kasian orang-orang yang termakan promo-promo sesat seperti ini, blog Kupasmotor bagi ane sudah memberikan pemahaman yang luar biasa bagus jika diikuti dari awal. Memang oli itu saya nilai sangat Subyektif, feelnya berbeda antar orang dan antar mesin

    Kalau saya ( pemakaian santun tapi berkendara dalam waktu yang lama ) cocok stay di API CI 10w30 saja, harga murah meriah per liter 70 rb. Jatuhnya malah lebih murah dikit dibandingkan oli Honda SPX, mau lebih gleser ditambahkan Verylybe Turbo 30 cc. Halus dan licin ( bagi saya pribadi ), total harga termasuk olinya juga ngga jauh dari Rp 70 rb.

    Say goodbye oli harga 150 rb jika pemakaian tidak ala-ala racing, dompet tebal hati happy…

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.