Ternyata BoxRepsol pun setuju ada masalah di penerapan teknologi MotoGP, firasat Honda mau hengkang?


Penulis jadi merasa lega karena ternyata ada yang sependapat dengan penulis. tmcblog mengutip artikel berikut dari BoxRepsol:
Are technological advances affecting the spectacle in MotoGP?

tentu paham mengapa boxrepsol pilih gambar yang ini 🙂

Menggunakan kata Adcances (kecanggihan) di judul tersebut menurut penulis adalah sarkasme.

Inti dari artikel tersebut adalah keputusan untuk ban, unified ECU dan pembebasan aero (dua terakhir ini menguntungkan Ducati) telah membuat balapan MotoGP menjadi balapan yang tidak menarik.

Penulis mungkin harus menjelaskan versi penulis untuk hal ini. Dan mengapa boxrepsol memilih ketiga faktor tersebut sebagai bahasan. Harus kita ingat apa yang menjadi masalah dari tim Honda sekarang, sulit menyalip.

Entah mengapa boxrepsol menggeneralisir masalah ini karena jelas bahwa sulit menyalip itu terutama adalah masalah di tim Honda, khususnya Marc Marquez. Dan problemnya terutama karena tiga faktor tersebut.

Berpindahnya ke ban Michelin membuat grip ban lebih bias ke belakang. Ban depan kalah gripnya daripada ban belakang. Ini membuat pembalap tidak bisa lagi melakukan trail braking hingga sangat masuk ke tikungan. Pembalap cuma bisa melakukan trail braking sedikit, itupun dengan rem belakang.

Keharusan melakukan hal itu membuat Marc jadi sulit mengeluarkan kemampuannya, karena kehebatan Marc ada di late braking, sementara itu desain rangka dari motor Honda membuat motor Honda tidak bisa dipakai untuk itu. Dan yang sekarang sering terjadi adalah Marc jadi justru overspeed ketika mencoba untuk adu braking.

Ini belum lagi soal desain ban Asimetris dari Michelin yang tidak pernah ketemu yang pas, yang membuat kadang ban saat latihan bisa beda jauh dari saat balapan:
Pembalap MotoGP ternyata jadi mudah crash karena model ban Michelin? Bukan salah lintasan Jereznya?

Unified ECU juga bikin masalah di hal ini. Ingat bahwa ketidakmampuan Honda untuk tuning ECU adalah faktor besar yang membuat banyak pembalapnya sering celaka atau tidak kompetitif. Walau tim tim lain juga kesulitan tuning, tapi cuma Honda yang pembalapnya sering celaka karena ini. Terutama karena problem cedera ini yang selalu membuat pembalap pembalap Honda pensiun balapan setelah ada 3 pengembangan teknologi tersebut, termasuk yang terjadi di Marc Marquez terakhir, istirahat sementara?

Bila di tim lain masalah utama adalah pada ketidak mampuan untuk menemukan setelan pas di saat akselerasi, di Honda masalah yang juga besar adalah pada deselerasi. Untungnya Cal Crutchlow memberikan pencerahan untuk hal ini, yaitu soal engine brake yang angin anginan. Engine brake yang tidak konsisten di setiap lapnya (di tikungan yang sama) membuat pembalap Honda sering melakukan kesalahan. Yang kalau fatal akibatnya adalah crash.
Crutchlow: motor Honda sekarang makin parah, tapi Marquez makin hebat
Engine brake Honda yang meningkatkan resiko crash, masalah ECU Magneti Marelli lagi?
Terlalu sering di crashkan motornya, Crutchlow niat pensiun karena sakit semua

Cuma memang crash yang bikin Marc hancur pertama kali lebih ke faktor ketidak mampuan ECU mengendalikan akselerasi. Yang memang sudah karakteristik dari teknologi kuno yang dipergunakan.
Lho, ECU RC213V-S kok dibilang lebih inferior daripada versi MotoGP? Terbalik!
Banyaknya rider berjatuhan di Valencia bukti teknologi MotoGP sudah ketinggalan jaman
Suzuki keluar MotoGP? Saat tepat, memang apa yang bisa diberikan Dorna?

Soal beban aerodinamika mungkin banyak yang sudah lupa, memang diakui membuat handling jadi makin berat:
Fairing baru dengan winglet untuk motor MotoGP Ducati bikin handling seperti mobil truk tapi Aprilia pakai yang mirip malah puas dengan fairing winglet barunya

Penulis lupa referensinya, tapi dijelaskan juga winglet membuat ban depan lebih melekat ke aspal tapi juga membuat lebih sulit untuk merubah arah di tengah tikungan. Seperti lewat rail, kalau sudah menentukan arah, sulit untuk merubahnya. Buruknya lagi, di MotoGP tidak dibolehkan dynamic winglet, padahal di motor jalanan justru sudah menerapkan.

Mungkin masih ada yang ingat bahwa Lorenzo pernah mengeluh bahwa motor MotoGP sekarang sangat menyita stamina, terutama di lengan. Dan problem terjadi makin parah di motor Honda. Motor Honda ia sebut sebagai motor yang paling menyita stamina. Marc juga bahkan pernah menyebut bahwa sebenarnya Honda bukan motor yang tepat untuk pemula seperti Alex Marquez.

Dan sekarang Marc jadi harus juga merasakan berulang kali lebih parah dari apa yang sebelumnya dirasakan oleh Lorenzo.

Marc sebelumnya juga bilang bahwa harus crash 20 kali seperti dia untuk bisa menguasai motor Honda sepenuhnya. Dan sayangnya kemudian Marc harus melalui hal yang sama, yang ternyata untuk kali ini Marc juga gagal seperti Lorenzo. Marc harus berhenti sebelum bisa lolos 20 kali crash. Tentunya sesudah kembali nanti, Marc juga harus crash dulu 20 kali sebelum bisa menguasai motor Honda.
Marquez: eh Lorenzo, loe harus crash 20 kali dulu baru nanti bisa kayak gue
Marc: memang Honda itu maunya pembalap sering crash dulu sebelum mahir mengendarai Honda

Sekarang sudah terbukti bahwa Marc sulit untuk bisa kembali mengendarai motor Honda. Alex Marquez tidak bisa kompetitif. Begitu pula Pol Espargaro yang dari awal sudah penulis prediksi terlalu meremehkan kesulitan motor Honda. Ironi sekali sekarang pembalap Honda yang diunggulkan adalah Takaaki Nakagami. Mestinya akan bisa cukup baik selama penyakit mudah crash motor Honda tidak dialaminya. Penulis tidak mengikuti, mungkin ada yang kasih masukan bagaimana beda performa Nakagami pakai motor versi sekarang? Penulis cuma lihat ada berita ia sekarang jadi sadis.

 

Yang jelas, ketiga pengembangan teknologi di MotoGP membuat motor Honda jadi tidak kompetitif. Sehingga bahkan Marc pun gagal memberikan gelar untuk Honda walau sudah dikontrak 4 musim.
Terungkap, Alasan Mengapa Honda Mau Beri Kontrak Istimewa 4 Musim ke Marc MarquezRabu, 10 Juni 2020 22:38 WIB

“Marquez adalah orang pertama yang mengusulkan pembaruan empat tahun, kami banyak memikirkannya dan bertanya kepada diri sendiri,” ucap Alzamora, dilansir BolaSport.com dari Tuttomotoriweb.

Penulis termasuk yang sempat melakukan prediksi kegagalan tersebut. Karena memang masalah masalah tersebut yang jadi problem besar, terutama untuk Honda. Cerewetnya Cal Crutchlow dan Lorenzo ketika masih di Honda sering diremehkan fans dan blogger. Padahal masukan mereka menunjukkan ada masalah besar di Honda. Dan sekarang sudah terbukti bahwa keluhan Crutchlow dan Lorenzo itu memang beneran masalah besar. Fans dari Honda harus malu.

Selain itu, keluhan di Repsol harus ditangani serius oleh Dorna, karena bukan tidak mungkin yang berikutnya melakukan keluhan adalah HRC. Kalau ternyata yang mengeluarkan keluhan akhirnya Honda, bukan tidak mungkin sudah bukan keluhan lagi, tapi pengumuman mengundurkan diri dari MotoGP. Karena kalau kondisi sekarang tidak memungkinkan Honda untuk menang, untuk apa terus?

Tapi tentu juga ada kemungkinan lain, Honda berjuang segala cara, termasuk memaksa Dorna untuk merubah aturan sehingga membuka peluang Honda untuk bisa menang lagi.

Tapi penulis nggak kepikiran hal apa yang bisa bikin Honda menang. ECU? Ban?

4 respons untuk ‘Ternyata BoxRepsol pun setuju ada masalah di penerapan teknologi MotoGP, firasat Honda mau hengkang?’

  1. Sebenernya sejak 2016 semua motor selain duc pada struggle
    Bedanya marc dapat mengatasi 2016-2019 walo berujung gitu deh
    Nah skrg yamaha punya Taro yg bisa mengatasi permasalahan yg hampir sama (korban regulasi)

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.