Nggak mungkin ada hero di MotoGP, Dorna yang bikin motogp tidak disukai fans


Menarik juga ketika sebagai blog yang sering bahas dunia balap, tmcblog membahas bahwa MotoGP tidak laku.
Apa Akar masalah MotoGP sampai disinyalir struggle mempertahankan Fans?

Entah ini perubahan atau memang sudah tahu sejak lama, penulis setuju dengan tmcblog bahwa MotoGP butuh adanya hero. Yang nggak setuju itu alasan mengapa tidak muncul hero. Menurut penulis bukan karena nggak ada yang mampu, tapi karena pengkondisian di MotoGP mencegah hal itu.

Bukan soal kesetaraan performa, karena performa motor MotoGP itu nggak setara. Ducati jelas beda dari Yamaha. Honda jelas beda dari Suzuki. Satu tim punya keunggulan dan keunggulan. Tim lain punya kelemahan dan kelemahan.

Tapi bukan itu yang bikin di motogp nggak bisa muncul hero. Menurut penulis yang jadi penyebab utama adalah performa motor yang tidak konsisten.

Bila tmcblog menyebut ban Michelin bikin motor motogp makin kencang, maka penulis lebih fokus ke Michelin bikin performa motor nggak konsisten. Yang berpikir seperti ini tidak cuma penulis saja:
What’s up with Michelin’s MotoGP tyres? Part 1

Consistency from one tyre to the next can always be improved, but if the tyres didn’t perform consistently the racing wouldn’t be closer than it’s ever been.

Banyak hal di ban Michelin yang bikin performa motor tidak konsisten. Contoh:
– grip ban bisa berubah ekstrem pada suhu yang berbeda, ini membuat pemilihan ban menjadi sangat kritis, rider / team harus bisa prediksi cuaca. Jadi masalah juga ketika cuaca berubah selama balapan.
– variasi kualitas ban dicurigai cukup besar bedanya. Sehingga ban yang seharusnya sama, bisa mempunyai performa beda ketika ban diganti
– “Usaha” Michelin untuk memperbaiki performa ban bisa membuat perilaku ban berbeda antara saat latihan dengan saat balapan.
– Hal itu diperparah dengan “keunggulan” ban Michelin yang grip ban sisi kiri dan kanan dibuat asimetris, beda kemampuan grip kiri dan kanan. Ini membuat insting reflek pembalap bakal dihancurkan pada setiap lintasan baru. Karena tiap lintasan bakal punya rumus beda, membuat pembalap harus menyesuaikan diri lagi dengan
– Diperparah lagi dengan grip yang tidak konsisten bila tipe ban berbeda. Dan ketika ban tidak dibuat konsisten asimetris. Pernah terjadi di ban soft asimetris, ban medium simetris, ban hard asimetris. Pembalap yang sudah terbiasa pakai ban soft asimetris yang lalu harus pakai ban simetris medium pada saat balapan jelas akan tidak bisa maksimal karena harus belajar dari awal lagi limit grip dari ban.

Sayangnya Michelin dan Dorna masih tetap ngotor ban asimetris yang terbaik. Padahal tidak sedikit keluhan pembalap yang mengklaim grip ban pada saat balapan tidak sama dengan saat latihan. Tapi keluhan ini biasanya diabaikan.

 

Dari sisi ECU juga sama. Sebagai balapan yang sering diidentikan dengan motor tercanggih, ECU di Motogp justru pakai teknologi yang ketinggalan jaman. Kalah jauh dari teknologi yang dipakai Kawasaki di WSBK.

Sebagai buktinya, bahkan dari tim pabrikan dengan banyak modal, dari Honda dan Yamaha pun sampai sekarang masih gagal mengoptimalkan ECU. Bahkan dari Ducati pun, yang sudah dapat dukungan 100% dari magneti marelli, sampai orangnya magneti marelli pun jadi anggota tim, masih saja mengalami beberapa masalah karena keterbatasan dari ECU Magneti Marelli.

Motor tercanggih tapi masih mengalami masalah wheel spin, power delivery kurang maksimal, wheelie, dst. “Keunggulan” setelan yang bisa berubah di setiap tikungan justru jadi pembunuh insting pembalap karena perilaku motor di tiap tikungan jadi tidak sama. Dan sayangnya, keunggulan ini tidak konsisten, membuat perilaku motor di lap berikutnya jadi tidak sama. Contohnya engine brake (diatur ECU) yang tidak konsisten membuat motor Honda jadi motor malapetaka bagi pembalapnya. Perlu diingat juga bahwa Marc sekarang jadi hilang dari MotoGP mulanya adalah karena motornya liar tenaganya.

 

Selain itu ada juga masalah dari rem Brembo yang sepertinya masih terus mengembangkan teknologinya agar bisa konsisten. Juga dari ride height device yang bisa tidak reliable.

Faktor faktor yang membuat motor tidak konsisten ini membuat motor MotoGP menjadi motor yang menghancurkan insting pembalap. Selain itu, faktor tidak konsisten ini membuat mustahil seorang pembalap bisa mengeluarkan performa maksimal. Pembalap sering disabotase oleh motornya sendiri. Pembalap yang diunggulkan di balapan, ternyata nggak bisa menampilkan performa terbaiknya karena misalnya grip ban tidak sama dengan saat latihan, atau rem tidak bekerja dengan baik, atau ECU angin anginan.

Dan variasi performa motor MotoGP terjadi begitu besarnya sehingga pembalap unggulan sekalipun tidak bisa unggul. Kemampuan pembalap jadi faktor yang tidak penting. Kemampuan tim untuk seting motor jadi faktor tidak penting. Kehebatan motor di lintasan lurus atau di tikungan menjadi tidak penting. Balapan menjadi lebih ke faktor keberuntungan.

Balapan adu hoki jelas bukan balapan yang disukai. Orang pingin lihat pembalap yang hebat bisa konsisten menang. Orang pingin lihat motor kencang bisa konsisten menang. Bila itu tidak terjadi, bila pembalap hebat sering disabotase oleh sesuatu, bila motor kencang sering disabotase oleh sesuatu, maka orang jadi malas lihat balapannya.

Turunnya pamor motogp sudah bisa diprediksi sejak lama. Apalagi ketika banyak pembalap pembalap yang sudah dianggap hero banyak dihancurkan oleh faktor motor motogp yang tidak konsisten. Hero lama (yang muncul di era motor masih konsisten) tersingkirkan, Hero baru tidak mungkin bisa muncul (karena motor tidak lagi konsisten).

Dorna telah membuat motogp tidak disukai orang dengan membuatnya tidak konsisten.

Bahasan ini penulis bahas juga di video:

5 respons untuk ‘Nggak mungkin ada hero di MotoGP, Dorna yang bikin motogp tidak disukai fans

    • Ga masalah ga ada tokoh utama
      Yang penting itu salip menyalip, senggolan, sliding ban belakang, hard braking side by side, slip stream, race line berbeda
      Dan semua itu sudah jauh berkurang bahkan hilang

      Sekarang semua pada turing sendiri2, pake race line yang sama di tikungan, tapi di lurusan pake line sendiri2 ga ada slipstream

      Oke juara seri berbeda2, tapi juara seri sudah hampir bisa ditebak dari posisi start

      Suka

      • pengamatan sy (Fans Motogp & F1), MotoGP itu hanya selalu nama Rossi, VR46, Valee……. yg ditonjolkan 🤔 setelah dia pensiun baru terasa sekarang ini….

        yg masalah ban, mungkin perlu bringback bridgestone😄. toh di F1 michellin pernah jdi masalah & kontroversi 2005 (saat itu ada 2 supplier ban) https://youtu.be/F2mHqPrQLtg

        bandingkan dgn F1 saat ini… saat verstappen lgi menang2nya & dominan, ada nama perez, leclerc, sainz, russel, dsb… yg jga sering tersorot media…

        apalagi ditambah serial DTS sejak 2019.. saat dimana Hamilton & Mercedes dominan (banyak fans F1 saat itu bilang membosankan), tim2 & pembalap lain jga sering ditampilan walaupun papan bawah sekalipun, exp: guenther steiner HAAS 😂

        Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.