Posisi duduk racy itu ada yang cuma kelihatannya saja kencang padahal aslinya selain nggak nyaman juga malah lambat .


Di sini penulis mencoba membahas posisi duduk racy bohong bohongan.

Dari beberapa tanggapan terhadap posisi duduk motor sport penulis mendapat kesan bahwa seakan akan posisi duduk racy di motor sport fairing itu bikin kencang karena aerodinamikanya bagus dan bikin enak handlingnya. Ini membuat banyak yang memaafkan kenyamanan yang jadi jauh berkurang. Tapi kalau dianalisa kok rasanya posisi duduk racy cuma strategi marketing yang belum tentu bikin cepat beneran.

Harus diakui memang gaya duduk begitu keren karena mirip dengan gaya berkendara motogp:

Untuk meniru itu maka posisi duduk dibuat tinggi, tangki dibuat super besar, diberi windshield dan tempat duduk penumpang dibuat tidak manusiawi. Tapi hasil akhirnya malah justru kacau.

Dari sisi aerodinamis di motor yang benar benar di desain dengan terowongan angin maka Baca lebih lanjut

Rumor Ducati bakal dibeli Royal Enfield itu menarik karena bakal dari buatan Thailand jadi buatan India .


Memang sekarang ini pabrik pabrik motor banyak yang berpindah ke Asia. Sekarang lagi ada rumor bahwa Ducati akan dibeli oleh Royal Enfield.

Selain Royal Enfield, Hero motor dan beberapa perusahaan Cina dikatakan tertarik. Namun yang membuat Royal Enfield dikatakan menjadi kandidat utama adalah karena Royal Enfield Baca lebih lanjut

Klub moge ingin membuktikan bahwa mereka tidak arogan bila diijinkan lewat tol tapi petisinya sendiri sudah bukti kearoganan mereka .


Menurut penulis ini adalah perilaku pamer.

Beritanya berikut ini:
Komunitas Motor Besar Akan Bikin Petisi Supaya Bisa Masuk Jalan Tol

“Kami diberi kesempatan untuk test ride mencoba dalam waktu 6 bulan atau 1 tahun untuk masuk jalan tol dan dikawal. Karena selama ini dikhawatirkan arogan. Kami buktikan bahwa kami tidak arogan,” kata Ketua MBC

Menurut penulis aneh bila pakai motor di jalan tol itu dikatakan bukan arogansi. Apalagi dikatakan seperti berikut ini: Baca lebih lanjut

Salah mengartikan bisa jadi salah analisa problem ban Rossi karena carcass di ban itu bukan tekstur, daging ataupun kompon


Sebelumnya penulis membahas mengapa pembalap motogp Valentino Rossi kesulitan memakai ban Michelin yang baru.

Penulis menganggap bahwa problem rossi bukan karena rossi sudah tua ataupun sudah berkurang kemampuannya, namun lebih karena postur tubuh yang tinggi dan cara pengereman / posisi berkendara di motor Yamaha yang membuat pengereman jadi sangat membebani ban depan.

Ada argumentasi yang menjelaskan bahwa rider dengan postur badan tinggi bisa mengerem lebih telat karena berat badan akan lebih membebani rem depan. Pemanfaatan kaki yang panjang memungkinkan motor tidak terangkat roda belakangnya karena center of gravity jadi turun. Namun ini akan sangat membebani ban.

Cara pengereman Valentino Rossi:

Cara pengereman Dani Pedrosa:

Menurut penulis faktor itulah yang membuat Rossi tidak suka ban Michelin dengan carcass soft, ban jadi nggak kuat menahan beban. Itu juga yang membuat pembalap semacam Doni Pedrosa atau Marc Marquez tidak suka carcass stiff, ban jadi berkurang gripnya sementara untuk keduanya ban soft tidak bikin masalah.

Penulis menjumpai bahwa blog lain punya kesimpulan berbeda. Sebenarnya tidak masalah ada kesimpulan berbeda, namun ternyata perbedaan kesimpulan itu sepertinya terjadi karena perbedaan dalam menterjemahkan kata carcass. Berikut contoh kutipannya: Baca lebih lanjut

Lebih efektif mana antara meningkatkan dan memperbaiki fitur keselamatan motor atau buat kursusan safety riding?


Akhir akhir ini sering ada acara kursusan safety riding yang dilakukan oleh pabrikan motor. Memang bagus bahwa pabrikan memberikan pelatihan kepada pemilik motor. Namun penulis tidak melihat usaha yang sama dilakukan terhadap motornya. Ada fitur keselamatan, tapi terkesan lebih sebagai sarana marketing saja. Sementara itu fitur yang sebenarnya bisa ditingkatkan keamanannya tetap dibiarkan saja. Perlu dipertanyakan sebenarnya untuk konsumen lebih efektif mana antara mendapat pelatihan atau motornya yang dibenahi.

Mungkin lebih mudah bila pakai contoh. Contohnya adalah banyak lady biker yang salah dalam mempergunakan lampu sein. Sein kiri tapi belok kanan atau sebaliknya. Seperti contohnya berikut ini, ngawurnya kompak:
Dua Emak-emak Bareng Sein kanan tapi Belok Kiri

Masih banyak lagi video atau cerita yang sama di bonsaibiker.com. Ada yang juga yang sampai celaka gara gara perilaku tersebut. Jadi problem ini merupakan problem keselamatan yang serius.

Ada paling tidak dua solusi yang bisa diberikan, yang pertama adalah Baca lebih lanjut

Penghentian ekspor Yamaha R3 ke India bukan karena tidak memenuhi standar emisi


Beberapa blogger memberitakan bahwa Yamaha R3 dihentikan ekspornya ke India gara gara emisinya tidak memenuhi standar. Penulis penasaran apa ini benar mengingat bentuk knalpot Yamaha R3 yang sudah semi bengkak.

Dan ternyata memang benar kecurigaan penulis, Yamaha R3 dihentikan penjualannya di India bukan karena faktor emisi tapi karena Baca lebih lanjut

Swing arm patah dan sharing tapi malah disuruh minta maaf oleh pabriknya


Penulis tergelitik setelah membaca postingan di blog ninja150ss berikut:
Pentingnya Menjaga Sebuah Kepercayaan

Tidak penulis pentingkan mengapa pabrikan mengambil langkah penghematan tersebut, yang penulis pentingkan adalah reaksi dari pabrik motor saat tahu ada masalah.

Kalau di Indonesia seringnya yang harus proaktif adalah konsumen. Yang menanggung biaya adalah konsumen. Bicara soal garansi mesin itu seringnya cuma berlaku untuk partnya, biaya mencopot dan memasang seringnya dibebankan konsumen.

Tentu masih ingat dengan berita soal korban dari arm patah xabre disuruh bilang bahwa klaimnya adalah hoax dan disuruh minta maaf, penulis : Baca lebih lanjut

Mengerem mendadak pun tidak bisa dilakukan tiba tiba, harus dengan halus transisinya, ini kurang ditekankan di safety riding


Penulis kaget juga saat mengetahui bahwa ada beberapa pembaca yang kalau mengerem tidak pakai bertahap. Bahkan ini juga terjadi pada pembaca yang katanya mengikuti alirannya safety riding / defensive riding Indonesia. Oleh karena itu penulis mencoba mengutip dari beberapa sumber untuk mencoba meyakinkan pembaca bahwa kalau mengerem itu harus bertahap.

Di artikel ini penulis tidak mementingkan pembaca waktu mengerem mendahulukan rem yang mana dulu. Bahkan menurut penulis bahasan ini justru sangat sangat penting bagi yang sekarang masih tetap bertahan mengerem pakai rem depan dulu.

Teknik mengerem secara bertahap itu disebut juga progressive braking atau staged braking.

Kebetulan penulis menemukan data g-force perlambatan yang terjadi pada saat sistem ABS bekerja. Data didapatkan dengan menguji G-force saat melakukan pengereman di motor 1000cc BMW, Honda dan Kawasaki. Sistem rem ABS yang dipergunakan adalah Bosch plus, Bosch Enhance dan buatan Honda. Data pengereman digabung pada kecepatan 60mph, untuk bisa menghitung selisih jarak.

ABS Comparison Test | Absolutely Brilliant Stopping, Three literbikes with anti-lock braking systems

Because it’s practically impossible to begin each test from an identical speed, we lined all the data up at 60 mph and calculated stopping distance from that point, as is typical in the industry.


Bisa lihat yang unik di grafik perbandingan kerja ABS tersebut? Yang pertama motor makin pelan kecepatannya makin cepat berhentinya. Yang kedua Baca lebih lanjut

Ini riset yang menunjukkan ngawur dan bahayanya ajaran safety atau defensive riding mendahulukan rem depan dan melarang menaruh jari di tuas rem


Sebenarnya soal ini rencananya akan penulis bahas di artikel tentang kontroversi aliran pengereman. Namun karena banyak komentar yang sepertinya menganggap enteng bahayanya pakai rem depan, maka penulis bahas dalam artikel terpisah.

Sebelumnya penulis sudah membahas bahwa mendahulukan rem depan dan tidak menaruh jari di tuas rem itu berbahaya. Untuk soal jari banyak yang setuju, untuk soal jangan mendahulukan rem depan ada yang tidak setuju. Sepertinya yang menganggap mendahulukan rem depan aman itu karena mengeremnya lembek atau tidak pakem. Ini akan penulis bahas di artikel lain. Penulis juga akan menulis artikel khusus soal rasio pengereman 70%/30% juga.

Di artikel ini penulis menterjemahkan sebuah riset yang menunjukkan bahaya menaruh semua jari di setang dan bahaya mengerem mendahulukan rem depan. Riset tersebut meneliti penyebab kecelakaan sepeda motor di Jerman.

Risetnya:
MOTORCYCLE BRAKING AND ITS INFLUENCE ON SEVERITY OF INJURY – Alexander Sporner & Thomas Kramlich, GDV – Institute for Vehicle Safety München – Germany

Judulnya adalah pengereman sepeda motor dan pengaruhnya pada tingkat parahnya luka, disusun di institut keselamatan berkendara Jerman.

The motorcycle database of the Institute for Vehicle Safety includes 610 motorcycle/car collisions as well as 300 single-vehicle accidents involving motorcycles, in which at least one motorcycle driver was injured. The data was obtained from the accident files of German car insurers and covers the period from 1990 to 1997. This data was used for an in-depth analysis of the sequence of events that occur during an accident.

Disebutkan bahwa data merupakan hasil analisa 610 kasus tabrakan motor, dimana 300 terjadi sendiri, dimana paling tidak ada satu orang yang terluka. Data diperoleh dari data kecelakaan dari perusahaan ansuransi di Jerman yang meliputi periode antara 1990 hingga 1997.

Kesimpulan dari risetnya:

Dikatakan bahwa Baca lebih lanjut