Klaim Vinales dibantah sendiri, di uji coba justru bisa jauh lebih cepat daripada di balapan hanya dengan satu klik di suspensi


Vinales menjadi yang paling kencang pada sesi uji coba di MotoGP Valencia.

Ia bisa mencapai waktu 1’30.189. Ia juga memuji motor Yamaha versi 2017: Baca lebih lanjut

Iklan

Menjatuhkan pengendara lain karena mereka mengendarai membahayakan apa wajar dihukum lebih ringan dibanding balas dendam pakai karung?



Penulis kaget juga saat membaca informasi bahwa pembalap pelempar karung bakal mendapat hukuman yang lebih berat daripada yang dilempar:
Pembalap yang Melempar Karung ke Pembalap Lain di Road Race Bondowoso Dihukum Seumur Hidup

Medya Saputra, Kabid Balap Motor IMI Pusat melihat video kejadian pembalap yang melempar karung ke pembalap lain saat balapan berlangsung. “Saya usulkan supaya pembalap yang melempar karung dihukum seumur hidup. Tidak boleh balap lagi. Pembalap yang terkena karung dihukum 3 tahun tidak boleh balapan. Tapi ini keputusan tetap di IMI Jawa Timur.”

Entah apa alasan dari IMI untuk membuat hukuman pembalap yang lain sehingga lebih ringan. Alasan pembalap lain menjatuhkan pembalap pelempar karung adalah sebagai berikut:

Profil Pembalap M Hassan Yang Dilempar Karung di Race Bondowoso

Menurut kesaksian pembaca roda2blog, insiden tersebut diawali karena gaya balap Dimas yang dianggap berbahaya oleh M. Hassan, si Hassan lalu emosi dengan menyenggolnya. Dimas kemudian terjatuh dan membalas dengan melempar karung ke arah Hassan.

Entah apa alasan kepala IMI pusat menghukum lebih ringan pembalap yang dengan sengaja menjatuhkan pembalap lain. Keanehan hukuman ini juga jadi komentar di motorplus.

Keduanya sama sama menjatuhkan pembalap lain. Apa melihat dari sisi cara melakukannya? menjatuhkan pakai sikut lebih sesuai peraturan daripada pakai karung?

Kalau dilihat dari sisi motif menurut penulis pembalap dengan rompi polisi lebih tidak bisa dimaafkan. Apa kalau di jalan kita menjumpai pengendara lain yang berbahaya maka harus kita jatuhkan? Apa jangan jangan itu yang biasa dilakukan pembalap rompi polisi saat di jalan umum? Ada emak emak salah pakai lampu belok diembat? Ada emak emak jalan berlawanan arah diembat?

Dari sisi balapan mungkin terkesan pembalap rompi polisi lebih sesuai peraturan. Namun dari sisi moral di jalan menurut penulis pembalap rompi polisi harus mendapat hukuman lebih berat. Juga perlu ditanyakan apakah ia juga melakukan tindakan seperti itu di jalan. Bila iya, maka orang seperti itu jangan dibiarkan mengendarai di jalan.

Bisa dilihat sendiri bahwa pembalap baju hijau tidak perduli ada penonton di tepi lintasan:

Seandainya penontonnya kena, bisa jadi penontonnya bakal lempar karung juga.

Royal Enfield Himalayan baru disebut bebas masalah tapi mengakui yang sebelumnya bermasalah, konsumen jadi bahan percobaan


Kadang pabrik motor itu baru mengakui kelemahan setelah kelemahan tersebut bisa diperbaiki. Seperti contohnya pada Royal Enfield Himalayan.

Pabriknya mengakui bahwa produk versi sebelumnya bermasalah. Tapi parahnya pabriknya terkesan sengaja melakukan. Berikut beritanya: Baca lebih lanjut

Peugeot Belville RS dan Allure skuter memulai tren velg besar padahal Indonesia lagi mulai ngetren velg kecil


Penulis tertarik dengan Peugeot Belville setelah membaca review yang mengatakan skuter ini jauh lebih empuk daripada skuter lain:
After a Peugeot Belville tour of the wet cobbled streets of Paris, Sticky finally concedes that there may be something in this high-wheeled scooter thing after all…

Model lumayan keren. Ada RS:

Ada Allure:

Lampu terlihat masih pakai halogen tapi sudah dilengkapi DRL: Baca lebih lanjut

Lorenzo kepleset nggak bisa recover, Dovizioso lewat gravel jatuh tapi Marques bisa recover dan bisa lewat gravel dengan selamat


Menarik bila kita membandingkan apa yang terjadi pada saat pembalap melakukan kesalahan.

Di balapan terakhir MotoGP 2017 di Valencia, Jorge Lorenzo ban depannya selip dan tidak bisa recover:

Andrea Dovizioso melakukan kesalahan sehingga jalan melebar dan lewat gravel:
Baca lebih lanjut