Apa kata intruktur safety riding terhadap mereka yang percaya bahwa standby jari di tuas rem lebih aman


Bagi penulis menaruh jari di tuas rem itu lebih aman. Penulis kebetulan menemukan blogger yang berpendapat bahwa menaruh jari di tuas rem itu lebih bahaya. Menarik untuk menyimak apa respon dari blogger tersebut terhadap orang orang (termasuk penulis) yang menganggap bahwa menaruh jari di tuas rem lebih aman.

Instruktur safety riding Indonesia berpendapat bahwa menaruh jari di tuas rem itu berbahaya. Ini alasan mereka, beberapa sudah penulis ungkap di artikel sebelumnya, kali ini cuma ringkasannya saja:
Jangan Letakkan Jari Kanan di Tuas Rem Motor, Gerak refleks bisa membuat pengendara motor celaka.

Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDCC), Jusri Pulubuhu mengatakan: “Harusnya, jari tetap di tuas gas saja. Karena saat jari standby di rem dan motor hilang kendali, tanpa disadari jari itu spontan mengerem, Kalau tangan terus di tuas rem, saat ada apa-apa jari akan refleks. Pengendara malah jatuh,”.

Efek Bila Jari Tangan Selalu Berada di Tuas Rem Sepeda Motor

Citra Ayu Lestari dari Rifat Drive Labs mengatakan: “Kenapa tangan enggak boleh stand by di tuas rem, karena ketika kita refleks atau kaget, kita akan menarik sesuatu yang terdekat, yaitu handle rem, yang bisa jadi berbahaya. Sebenarnya, motor itu akan berhenti sendiri tanpa digas,”

Jari Tangan Stand By Terus Di Tuas Rem Saat Nyetir? Jangan Dibiasakan Girls!

Instruktur Safety Riding PT Wahana Makmur Sejati, Muhammad Ady Sucipto menjelaskan: “Misalkan ada pengendara di depan kita yang mau nikung, lalu jatuh. Logikanya, karena jarak kalian sudah rapat dan tanganmu yang sudah stand by pada tuas rem, maka kamu bisa ikut jatuh karena pasti akan refleks untuk ngerem. Makanya jari nggak boleh stand by pada tuas. Yang harus diperbuat, seharusnya saat hendak menikung ya kurangi kecepatan, dan selalu jaga jarak,”

Riding Habit: Sama-sama nyaman, tapi hanya satu yang aman

Ketika pandangan ini gak siap dengan apa yang terjadi di depan, akibat nunduk terus atau hilang fokus ke jalan, umumnya biker akan kaget dan berimbas gerak reflek dari anggota badan. Nah saat reflek, jari yang kadung standby di tuas rem depan secara otomatis tanpa perintah otak akan menarik rem depan dengan sangat kuat hingga rem depan mengunci. Hasilnya bisa ditebak, roda depan selip dan kalau sudah roda depan yang slide gak ada kesempatan lagi bagi kita untuk koreksi kesalahan tersebut. Akhirnya motor pun jatuh atau menabrak objek di depan karena gagal melakukan pengereman.

 

Kita abaikan pernyataan bahwa motor akan berhenti sendiri tanpa di gas.

Inti dari keempat kutipan tersebut adalah reflek pada saat panik akan membuat jari menekan tuas rem secara berlebihan dan akan bikin jatuh. Diasumsikan bahwa dengan tidak menaruh jari di tuas rem, pengendara yang panik tidak akan menekan rem secara berlebihan.

Ada dua poin yang perlu dipertanyakan:

  • apa benar cara itu akan menghindari pemakaian rem yang berlebihan?
  • apakah cara itu tidak akan mengurangi respon pengendara?

 

Kita tidak bahas apakah para intruktur tersebut sudah pernah mencoba sendiri atau dapat ilmu dari pelatihan. Kita bahas dari kenyataan saja.

 

Untuk penulis, menempatkan jari di tuas rem justru menghindari pemakaian rem yang berlebihan. Yang lebih penting lagi adalah respon yang tidak telat. Mau rem nggak perlu cari cari lagi, nggak perlu lihat setang dulu. Hail ini baru terasa dalam keadaan panik, kalau dalam keadaan normal tidak terasa. Ini berdasarkan pengalaman penulis setelah mencoba dua cara, baik dengan jari di tuas rem ataupun saat lagi malas sehingga tidak menaruh jari di tuas rem.

Bagi penulis tidak menaruh jari di tuas rem itu adalah tanda ketidak seriusan dalam menghadapi kemungkinan bahaya di jalan.

 

Untuk kejadian nyata yang terekam, video berikut menunjukkan bahwa walau jari tidak berada di tuas rem, pengendara tetap bisa saja terjatuh.

Ada tiga video yang menunjukkan bahwa tidak menaruh jari di tuas rem tidak lebih aman. Ini diperparah dengan kebiasaan pakai rem depan dulu. Jadi lebih gampang jatuh. Nggak heran bagi mereka ABS itu sangat penting. Karena ABS akan sangat membantu dalam mengurangi bahaya cara riding nggak safety mereka.

 

Bila itu belum cukup, kita juga bisa simak testimoni dari yang lain. Menarik untuk disimak bagaimana respon dari blogger (yang pro) instruktur safety riding terhadap rider yang tidak setuju. Blogger tersebut banyak menulis tentang safety riding atau defensive riding dan mengikuti aliran dari instruktur safety riding Indonesia:
ElangJalanan.NET – Road Safety & Road Adventure Blog – Defensive Riding, Safety Riding

 

Berikut respon blogger tersebut terhadap komentar yang menolak larangan menaruh jari di tuas rem:
Riding Habit: Sama-sama nyaman, tapi hanya satu yang aman

 

Masih belum dikatakan “keren” jika bawa motornya masih seperti ini

 

[Posisi Riding] Posisi jari-jari saat berkendara motor yang ideal

 

Ada beberapa poin yang menarik:

In high-risk areas, such as intersections, shopping areas, schools, or construction zones, reduce your speed, and cover the clutch and both brake levers to reduce your reaction time.

Dikatakan bahwa di daerah yang rawan, maka kurangi kecepatan dan taruh jari di tuas kopling dan tuas rem agar waktu reaksi tidak lambat.

Advanced Motorcycle Braking

the Head Protection Research Laboratory, a think tank formed by Dr. Harry Hurt (author of the famed Hurt Report in the early 1980s), conducted a study entitled Hand Position and Motorcycle Front Brake Response Time. The study concluded:
“The human factors approach [to preventing motorcycle accidents] begins with education of motorcyclists to the value of covering the critical front brake. Training and practice in the effective use of the front brake and covering the brake lever has the potential to increase the numbers of motorcyclists who successfully avoid a critical violation of their right of way.”

Dikatakan bahwa dari penelitian terhadap posisi jari dan waktu respon pengereman disimpulkan bahwa menaruh jari di tuas rem depan bisa meningkatkan kemampuan pengendara untuk menghindari situasi kritis.

 

  • blogger banyak bicara soal pandangan ke depan, seakan akan menaruh jari di tuas rem itu menyita perhatian. Seakan akan rider yang menaruh jari di tuas rem itu akan mengalami gangguan konsentrasi pandangan ke depan. Yang penulis rasakan malah sebaliknya. Dengan menempatkan jari di rem itu justru penulis jadi lebih bebas tidak lagi memikirkan soal rem. Justru waktu menaruh semua jari di setang penulis pernah sampai terpaksa tidak menghiraukan yang ada di depan karena harus melihat tuas rem ada dimana, karena penulis raih raih kok susah. Mau dikatakan newbie terserah. Cara berkendara yang hanya bisa dipergunakan oleh orang sangat mahir itu artinya merupakan cara mengemudi yang tidak aman untuk banyak orang. Penulis nggak butuh cara mengemudi yang cuma aman untuk expert, penulis butuh cara mengemudi yang aman untuk semua orang.
  • kesan blogger setelah mencoba menaruh semua jari di setang itu anehnya tidak berkaitan dengan keamanan tapi lebih ke soal capek dan rileks. Dan pada responnya juga meminta orang membiasakan bukan dengan alasan lebih aman tapi lebih rileks. Mungkin ini karena bloggernya sendiri tidak bisa membuktikan bahwa menaruh semua jari di setang lebih aman. Ini jadi poin berikutnya.

  • Blogger bilang bahwa pernah selama 13 tahun pakai kebiasaan menaruh jari di tuas rem. Walau blogger bilang bahwa menaruh jari di setang berbahaya, anehnya penulis tidak menjumpai blogger mengeluh pernah celaka atau hampir celaka karena kebiasaan itu selama 13 tahun tersebut. Jadi jelas blogger tersebut tidak punya pengalaman pribadi yang bisa jadi dasar untuk menganjurkan orang mengganti kebiasaan menaruh jari di tuas rem. Ini jadi poin berikutnya.

  • Walau banyak yang sharing pengalaman pribadi yang mengalami bahaya saat menaruh semua jari di setang, blogger tidak memperdulikan dan dianggap itu cuma salah persepsi. Menganggap bahwa menaruh semua jari di setang pasti aman, bila ada celaka maka itu adalah salah pengendara, bukan salah metodenya. Ini juga yang terjadi pada metode pengajaran mendahulukan rem depan. Kalau ada celaka dianggap pengendara yang kurang mahir. Seperti penulis sebutkan sebelumnya, harusnya cara mengemudi yang aman itu juga aman untuk newbie. Seperti beda antara jalan diatas tanah dengan diatas tali. Jalan diatas tali bisa aman, tapi butuh kemampuan yang tinggi. Untuk newbie lebih baik jalan di tanah saja.

 

Dari beberapa artikel blogger yang melarang penempatan jari di tuas rem, penulis tidak menjumpai keberadaan bukti. Yang ada cuma asumsi yang sama seperti 4 kutipan diatas.

Penulis mencoba menanyakan, tapi sepertinya menemui jalan buntu. Berikut saat penulis menanyakan:
Review jalanan pengendara ojek online, sudah seberapa aman mereka berkendara setelah pelatihan? Posted on May 10, 2016 by elang

sucahyo says: March 31, 2017 at 1:34 pm
“Dari 1.000 Go-Jek hanya 1 yang terlihat jari tidak standby di rem depan. Statemen angka 1.000 ini bukanlah real Elang menghitungnya sendiri, tapi kiasan seolah-olah sangat sulit menemukan rekan gojek yang sadar akan bahaya yang satu ini. Padahal di kelas maupun di lapangan training sering kali diulang-ulang pesan yang satu ini oleh Instruktur, bahwa jari standby di rem depan punya potensi bahaya yang cukup besar, yakni bahaya reflek ketika mendapati kondisi tiba-tiba disebabkan pandangan kurang jauh ke depan.”

Kok yakin sekali itu berbahaya? Memang sudah pernah melakukan simulasi? simulasinya jangan dimanipulasi ya.

elang says: March 31, 2017 at 2:09 pm
wah mas sucahyo ini dari awal komen di blog saya perhatikan kok penuh dengan semangat debat terus ya, saya termasuk yang gak doyan debat mas, gak ada untungnya, lebih baik terus menulis hal-hal yang bermanfaat, masalah perbedaan referensi gak usah dibesar-besarkan, mau terima monggo gak terima ya silahkan kembali ke diri masing-masing

saya tegaskan untuk tidak mengulangi komen-komen seperti ini lagi, gak kondusif bagi pembaca untuk menyerap ilmu nanti mas.

suwun sebelumnya

Ada beberapa poin yang menarik.

  • 999 gojek yang masih menaruh jari di tuas rem dianggap tidak sadar keselamatan. Padahal dari komentar sebelumnya ada gojek yang justru jadi kena bahaya karena mempraktekkan ajaran intruktur safety riding. Seharusnya intruktur safety riding harus bisa membuktikan bahwa menaruh semua jari di setang betul betul aman dan tidak cuma sekedar omongan tanpa bukti. Percuma mengulang ulang pesan bila tanpa demonstrasi nyata. Dan menurut penulis, demonstrasi nyata justru bakal menunjukkan bahaya dan jeleknya menaruh semua jari di setang.
  • Bahaya menaruh jari di tuas rem dikatakan adalah karena pandangan kurang jauh ke depan. Terus terang penulis tidak paham logika ini. Kalau jari sudah di rem, untuk apa lagi harus memandangi jari? Penulis tidak mengalami kesulitan seperti itu. Selama ini penulis lihat orang lain yang menaruh jari di tuas rem pandangannya juga nggak ke jari yang di tuas rem. Justru yang penulis pernah lihat melirik jari itu orang yang menaruh semua jari di setang, untuk lihat tuas rem dimana. Kalau blogger berpendapat bahwa tidak konsen ke depan itu berbahaya, maka bagi penulis itu artinya blogger mengakui bahwa menaruh semua jari di tuas rem berbahaya.

  • blogger menyebut soal referensi, tapi penulis sampai sekarang tidak pernah menjumpai adanya referensi baik dari blogger itu sendiri ataupun dari 4 kutipan diatas. Sebaiknya referensi adalah penelitian atau simulasi atau paling tidak pengalaman pribadi. Yang jelas ada tiga video diatas yang jatuh walau sudah menaruh semua jari di setang. Satu video saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa menaruh semua jari di setang masih bakal jatuh, ini ada tiga.

  •  

    Bagi penulis membahas tentang cara mengendarai mana yang lebih aman itu penting dan bukan hal yang sia sia. Sangat pantas untuk meluangkan waktu mempelajari cara yang lebih aman karena ini menyangkut keselamatan banyak orang.

    Penulis bersyukur bahwa dari 1000 gojek, cuma satu yang mengikuti ajaran ngawur dari instruktur safety riding.

    Dan untuk mereka yang masih mengikuti ajaran mereka, sebaiknya hanya mengendarai motor sport dengan ABS. Menurut penulis cara mengerem instruktur safety riding katanya lebih safety itu justru lebih beresiko bikin orang jatuh. Sangat bahaya bagi mereka mengendarai motor matik tanpa ABS. Matik dengan CBS malah justru lebih bahaya lagi. Untuk intruktur safety riding, sebaiknya sekali sekali coba melakukan demo pakai matik CBS.

    Yang nggak mampu beli motor sport dengan ABS, sebaiknya jangan pakai cara mereka. Rem dahulukan yang belakang, taruh jari di tuas rem terutama bila kondisi jalan tidak aman, siap sedia tekan klakson. Berkendaralah dengan aman, jangan praktek slalom di jalan, jangan praktek jalan lambat saat yang lain pada cepat.

    Be safe.

    Iklan

    25 thoughts on “Apa kata intruktur safety riding terhadap mereka yang percaya bahwa standby jari di tuas rem lebih aman

    1. Pembahasan menarik, terkadang saya mempraktekan 2 teknik diatas namun di situasi yg berbeda

      2 jari standby di tuas rem depan kalo sedang berada di jalanan yg padat cenderung macet, jalan2 perumahan (tau2 ada anak kecil nyelonong) sama jalan2 yg tricky seperti jalan berlubang ato jalan yg banyak pasir atau kerikil, khusus jlan berpasir banyak manfaatin enggine brake dan rem blakang scara lembut, kalo rem depan sesekali colek lembut aj krn bisa2 selip

      Kalo jari2 full di grip gass kalo sedang di jalan lebar dan lg memacu motor kcepatan sedang > tinggi dan tipikal pengeremannya ke hardbreaking diikutin trailbraking , semacam kalo lagi momen2 mau cornering gitulah

      Suka

      • terima kasih sharingnya, di situasi licin dan ngegrip saya pilih cara mendahulukan rem belakang, untuk memastikan bahwa ban depan sudah menerima weight transfer sehingga sudah lebih ngegrip daripada sebelumnya.

        Disukai oleh 1 orang

    2. saya biasanya memang menaruh 2 jari tangan kanan di tuas rem tapi bukan jari telunjuk dan jari tengah, melainkan jari tengah dan jari manis. udah kebiasaan sih. setiap ganti motor ya dua jari itu otomatis parkir di tuas rem wkwkkwkwkw

      btw kalo melihat jawaban elang, saya merasa justru aneh. aneh nya itu yang namanya jalanan kan situasi nya selalu berubah2 dan namanya perubahan itu ada yang berlangsung sangat singkat. lagian kalo misal kita sudah hati2 tapi ternyata orang lain enggak hati2, nah situasi itu kan membutuhkan kecepatan reflek. terlalu teroritis jawaban si elang

      Suka

    3. Pernah baca di tabloid otomotif motor + yang terbit ditahun 2000 an tentang safety riding memang ditekankan satu atau dua jari harus standbay di atas tuas rem depan. Nah berkat dari referensi bacaan tersebut saya mencoba mempraktekannya dalam mengendarai sepeda motor memang awalnya agak canggung tapi lama kelamaan jadi terbiasa dan teknik tersebut saya rasa memang mempengaruhi respon seseorang untuk meraih tuas rem depan jadi lebih cepat dari pada yang tidak sama sekali menaruh jari diatas tuas rem.

      Suka

    4. kalau menurut sy, intinya defensive riding itu slalu liat sitkon jalan di depan kita jauh ke depan. jadi selalu kurangi kecepatan sebelum pengereman, jd rem tidak dadakan.
      kalau mengenai jari standby di tuas rem atau tidak menurut saya nyamannya org aja.
      kl gas bs lbh halus saat jari di tuas ya sah2 aja begitu pun sebaliknya.
      sy pribadi jari tangan kanan seluruhnya di grip gas.
      saat jalan pelan di komplek yg rame org baru jari standby di tuas rem depan.
      hanya ikut berpendapat ya mas 🙂

      Suka

      • Iya, untuk penempatan jari, selama pengendara bisa memastikan bahwa reaksi tidak bakal lambat dan berlebihan, boleh boleh saja menurut saya. Orang yang sudah terlatih berjalan diatas tali juga bisa lebih aman berjalan diatas tali daripada newbie. Namun kalau sudah pernah pengalaman buruk, maka ya jangan diteruskan. Selama masih belum punya pengalaman, sebaiknya mengikuti apa yang tidak menimbulkan pengalaman buruk bagi yang lain.

        Bila untuk pengendara menempatkan jari di tuas rem justru bikin celaka daripada yang sebaliknya, maka untuk pengendara itu ya cocoknya menaruh semua jari di setang. Tapi saya belum pernah dengar pengalaman pribadi soal ini, yang misal ngomong “kalau jari di setang cuma celaka sekali, kalau jari di tuas rem berkali kali”. Yang saya dengar justru “kalau semua jari di setang saya malah gampang celaka”.

        Tapi tetap untuk urutan pengereman, saya tetap menganjurkan mendahulukan rem belakang.

        Suka

    5. mencari pembenaran…
      jangan ngajarin yg ngga ngga no…
      mesake orang lain…
      giliran ada yg cilaka ntar yg dituntut di hari akhir sopo?

      Suka

      • Sy pnya soul gt dan jupiter z1, keduanya bergantian dipakai setiap hr, ketika pakai matic jari telunjuk dan tengah selalu di tuas rem depan bahkan tangan kanan kiri, selalu dulu kan rem blakang baru rem depan, ini “combi brake” ala saya, pun jg ketika pakai z1 jari tlunjuk n tengah slalu siaga di tuas rem sampai kulit telapak dibawah jari tengah tangan kanan saya tebal/kapalan. Guna yg lain adalah kita bisa menstabilkan puntiran gas apalagi pas lewat jalan bergelombang ekstrem, pasti jika jari full menggenggam bikin gas naik turun liar, palagi naik bebek di gigi rendah pas kejeglok lubang dan tangan kanan full genggam gas pasti gasnya terpengaruh guncangan dan motor pun bisa loncat krn gas kepuntir. Beda kalo sambil pegang tuas rem. Bisa segera ngerem dan gas bisa dibatasi…bisa dibayangkan kan?? Di moto gp pegang full di grip hanya saat di straight aja…saat tikungan ato fight pasti ada jari di tuas rem

        Suka

    6. kalo saya di jalanan padat/ ramai 2jari selalu stanby di tuas rem, kalo jalanan lenggang/sepi baru dah jari off dari tuas rem. selalu seperti itu dan alhamdulillah jatuh dari motor sumur2 naik motor baru sekali ketika awal2 bisa motor/masih belajar.

      kalo lagi ramai jari off dari rem bisa mengurangi refleks dan belum lagi karena panik resiko jari terhalang/nyangkut dibawah tuas rem karena panik jauh lebih beresiko nabrak/nyeruduk.

      yang jelas kuncinya kalo lagi ramai jangan kenceng2 saja lihat situasi dan kondisi jalan. inget yang bayar pajak bukan cuma kita sendiri, orang lain juga bayar maka saling respek dengan pengguna lain di jalan. Insya Allah mengurangi resiko celaka.

      Suka

    7. si Elang itu sepertinya jadi instruktur safety riding Honda yak?

      BTW soal program safety riding Honda itu ane lihatnya lebih kepada cara untuk menjaga eksistensi jualan mereka, supaya dagangannya tetap laris, ngoahahaha….
      Sorry, ane emang orangnya suka yg melawan arus bin kritis, hwehehehe…

      Suka

    8. Lebih nyaman jari di handle rem:
      1. Respon lebih cepat
      2. Sebagai “tumpuan” supaya bukaan gas tetep stabil ga keputar mendadak saat libas jalan jelek.. => ini yg paling penting IMO

      Suka

    9. entah yg mana yg bener sih ya. waktu awal awal rutin pake motor jg saya selalu stand by jari tengah sm telunjuk kanan di tuas rem, ini kebiasaan karna ngeliat keluarga yg bawa motor selalu begitu. jadi yaa ikutin aja. tp seiring waktu, entah sejak kapan malah jadi lepasin jari dr tuas rem depan, istilahnya ya ngga stand by. TAPI, harua ngeliat juga kondisi traffic yg saya lalui. kalo macet padet full smpe dempet dempetan, itu jari harus stand by buat reflek dan sedikit ngotot dengan metode gas spontan rem dadakan (tau sendiri kan kalo ga ikut ngotot ga dapet jatah jalan dr pengendara lain). pas lg lengang, yaa saya genggam throttle full jari tanpa ada yg stand by di tuas rem. semua conditionally. dan saya setuju sama poin dr blogger Elang, pandangan itu yg utama. mata harus dahuluin gerakan saya. dan Alhamdulillah selama ini belum pernah crash parah (dengan metode standbg hari di rem atau full di throttle). thanks sharingnya mas.

      Suka

      • sip. Iya, boleh dalam keadaan ramai saja menaruh jari di tuas rem. Untuk saya sudah kebiasaan dan tidak merasa terganggu ataupun bikin capek saat jari selalu tetap di tuas rem.

        Suka

    10. Setuju 100% dgn bro Sucahyo. Sy saban hari bawa mtr sdh >30 thn dr dulu selalu standby 2 jari telunjuk & tengah di handle rem dpn, serta terbiasa injak halus rem blkg dulu baru sepersekian detik kemudian pakai rem dpn. Terbukti cara ini yg plg safety utk keadaan normal maupun panic brake. Kalo gak gitu, 9 nyawapun msh gak cukup, bro. Semoga Tuhan sll melindungi kita semua, Amin.

      Suka

    Bagaimana menurut bro?

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s