Mengamati ciri van belt perlu diganti sebelum putus dan cara agar CVT bisa awet gara gara transmisi matik tidak terendam oli


Penulis barusan kena musibah, van belt nya Suzuki Spin penulis putus dan repotnya menyangkut sehingga roda belakang tidak bisa bergerak sama sekali. Van belt itu yang seperti ini:

Banyak yang baik hati. Banyak yang menawari mendorong pakai motor, sayang ban macet jadi mereka tidak bisa membantu. Namun kemudian ada yang sangat baik hati menawarkan untuk membantu membawakan motor ke bengkel pakai mobil pick up. Sangat baik hati karena menolong ikhlas tanpa meminta bayaran. Penulis juga dibantu diantar sampai ke rumah. Semoga mereka semua mendapat berkah berlimpah.

Penulis akui penulis teledor. Ini mungkin karena ciri van belt mau putus sebelumnya berbeda dengan yang sekarang.

Dengan dua kali mengalami van belt putus ini, penulis jadi lebih waspada dan ingin share apa yang harus diperhatikan bila van belt sudah waktunya diganti.

Kalau dari waktu penggantian, ada yang bilang 25 ribu km, ada yang bilang 30 ribu km.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Ganti V-belt Motor Matik?

Ia menambahkan, V-belt harus diganti bila pemakaiannya melewati batas maksimum karena biasanya V-belt bakal mengalami retak-retak yang mengakibatkan getaran pada motor. “Standar penggantian V-belt setiap 30 ribu kilometer. Putus enggak putus harus diganti,” ungkapnya.

Awas Putus! Ini Waktu Yang Tepat Ganti V-Belt Skutik

Yosi menjelaskan agar para biker melakukan pengecekan secara berkala berdasarkan jarak tempuh skutiknya. Menurutnya, usia V-Belt paling jauh dapat mencapai jarak 25.000 km untuk pemakaian standar. jika skutik kerap dipakai berboncengan, membawa beban berat atau melibas tanjakan, tentu usianya menjadi lebih pendek.

Motor Matic Bergetar, Artinya V-Belt Harus Segera Diganti

Bila melihat buku panduan yang ada, batas maksimum pemakaian V Belt Honda Beat adalah 24 ribu kilometer. Jika tetap dipaksakan bisa saja akan menambah kerusakan pada komponen lainya. Meski mempunyai batas maksimal untuk mengganti V Belt, sebaiknya tetap dilakukan pengecekan berkala setiap 8.000 Km atau sekitar 4 bulan pemakaian.

 

Kalau di hitung hitung, sebenarnya van belt penulis belum sampai 25 ribu km. Tapi sudah putus duluan. Padahal itu pakai yang orisinil. Jadi sepertinya acuan 25 ribu km pun masih terlalu lama. Mungkin lebih cocok bila van belt di ganti tiap tahun bila motor dipakai tiap hari agak jauhan. Dua tahun sekali bila dipakai dekat dekat saja.

Saat kejadian pertama putus, bagian CVT jadi bunyi pada saat ngegas awal. Jadi misal saat mau jalan maka bagian CVT ada bunyi cit ciiiiit ciiiit, sebelum motor jalan. Tarikan juga tidak mulus, terasa menyentak kaget seperti bila CVT habis kena banjir. Di kecepatan tinggi motor terasa jalan nggak mulus seakan kampas kopling sudah habis, jadi rpm sebentar sebentar naik sementara tapi kecepatan nggak nambah.

Saat kejadian kedua putus barusan, di bagian CVT jadi ada bunyi drrr. Kecepatan lalu jadi turun seperti ada hambatan. Lalu beberapa saat kemudian ada bunyi seperti bila ada balon yang nempel di ban sehingga ada bunyi tumbukan tumbukan periodik. Penulis sudah minggir dan melambat tapi telat, ban keburu ngelock dan langsung berhenti. Untung sudah pelan dan sudah di pinggir sehingga tidak mencelakakan yang lain.

 

Ada yang bilang mengetahui van belt waktunya diganti dengan mendeteksi getaran. Itu tidak selalu bisa dipergunakan. Paling tidak di motor Honda Beat ESP itu tidak berlaku. Ini pernah penulis bahas di artikel berikut:

Saat motor masih baru nyis umur beberapa hari, belt juga bisa terasa bergetar kalau dipakai ekstrem. Getaran akan hilang sendiri setelah beberapa waktu dipakai halus.

Berdasarkan pengalaman dari merasakan nggak enaknya van belt matik Honda Beat, menurut penulis yang membuat van belt cepat rusak itu bukan kecepatan tapi akselerasi atau beban. Dibawah top speed gas mentok bermenit menit no problem bila akselerasinya pelan pelan. Baru jadi masalah bila dipakai akselerasi gas mentok mulai dari pelan.

Jalan pelan 40km/jam juga bisa bikin belt Honda Beat getar bila gas pol saat akselerasi. Apalagi bila gas pol selagi boncengan sama anak istri. Dijamin langsung getar. Makin parah motor sudah dimodif biar tarikannya enak.

Pernah kejadian saat motor masih baru, pro capacitornya lepas tanpa penulis tahu. Tenaga lemah sekali. Penulis coba untuk gas pol, getarnya belt nggak banyak. Beda dengan waktu pro capacitor masih terpasang. Sehingga akhirnya sekarang kalau boncengan pakai Honda Beat penulis jarang jarang pakai gas pol kalau akselerasi. Selalu pakai gas sedikit sedikit.

Berdasarkan pengalaman itu maka menurut penulis yang memperpendek umur van belt dari cara pemakaian adalah:
– akselerasi dengan gas pol
– bawa beban berat
– dipakai menanjak
– modif tenaga

Harga Van Belt ori katanya sekitar 200 ribuan. Sementara yang nggak ori 100 ribuan. Menurut penulis rasanya nggak beda antara yang ori dengan nggak ori, sama sama nggak bagusnya. Mungkin yang sip pakai belt racing. Paling tidak lebih tahan dibuat akselerasi. Soal umur mungkin sama saja. Repotnya cuma motor populer yang ada belt racingnya.

 

Yang sering terlupakan juga adalah pelumasan. Transmisi motor matik itu beda dengan motor manual. Kalau di motor manual transmisi itu sebagian terendam oli. Sehingga saat dipakai maka semua bagian transmisi akan terlumasi oli. Di motor matik beda. Bagian transmisi itu kering. Motor butuh oli transmisi, tapi dipakainya hanya untuk gigi rasio akhir, tidak melumasi kopling dan bagian perubah rasio.

Bagian trasmisi matik harus kering agar tidak mengganggu kerja dari van belt yang mengandalkan daya rekat dari belt ke piringan penggerak. Kalau licin maka motor jadi nggak jalan. Namun itu jadi masalah karena ada bagian dari transmisi yang butuh pelumasan. Untuk melumasi nggak bisa pakai oli tapi pakai greese (stempet / gemuk).

Melumasi pakai greese ini harus dilakukan secara berkala. Ada yang bilang setiap 8 ribu km, ada yang bilang setiap 15 ribu km. Mungkin baiknya 6 bulan sekali bila motor sering dipakai dan satu tahun sekali bila motor dipakai cuma untuk jarak dekat. Bila pelumasan tidak dilakukan maka bagian yang bergerak akan jadi cepat aus. Yang paling sering kena adalah bagian roller dan rumah rollernya.

Bagian ini sering terlupakan karena tidak menjadi bagian dari servis periodik dari bengkel resmi. Melumasi sepertinya juga bukan bagian dari servis resmi. Di website Honda cengkareng yang disebut cuma “Periksa drive belt”. Jadi harus nambah bila ingin melakukan pelumasan CVT. Terakhir di Honda Beat biayanya 45 ribu.

Karena biasanya tidak diingatkan sama bengkel, harus diingat ingat sendiri.

 

Karena tidak terendam oli, maka bagian CVT ini menggunakan cara pendinginan komponen dengan cara lain. Yaitu dengan pakai pendingin pakai udara. Oleh karena itu di CVT ada baling balingnya.:

Gunanya untuk mengalirkan udara.

Karena ada greesenya, maka udara yang masuk harus bersih. Oleh karena itu diberi filter:

Kalau filternya buntu maka efeknya transmisi jadi tidak didinginkan dengan sempurna. Yang kena pelumas dan beltnya. Umur jadi berkurang, dan lebih cepat aus CVTnya. Kalau filternya bolong, maka debu akan mengotori CVT yang efeknya pelumasnya yang akan jadi kotor dan malah jadi seperti amplas.

 

Yang repot adalah waktu banjir. Karena bagian CVT itu tidak kedap air, maka bila CVT terendam air, air bisa masuk ke bagian dalam CVT. Belt akan bisa bekerja normal bila sudah kering, namun greese bisa hilang dan jadinya bagian yang tadinya terlumasi oleh greese jadi tidak terlumasi lagi. Jadi setelah banjir baiknya di lumasi lagi bagian CVTnya.

Iklan

16 thoughts on “Mengamati ciri van belt perlu diganti sebelum putus dan cara agar CVT bisa awet gara gara transmisi matik tidak terendam oli

  1. iya jd inget varioq kenapa ya om,,kl mau jalan narik gas pelan..det..det..det..baru lancar..tp kl langsung tarik gas pol gk ada det.detnya,,habis jalan tutup gas belok..trus pluntir gas pelan..det. det..det..
    vario 125LED 2016 bulan 3,,odo 6500km.,,
    oli primaxp+minyk goreng..semua part ori.

    Suka

  2. Yamaha Xeon bapak saya malah sudah km 50rb belum ganti.

    Untuk perawatan coba pakai belt dressing seperti yang digunakan untuk fan belt di mobil. Saya pakai di mobil bisa bertahan sampai 70000km dari Standar 50rb.

    Kalau bisa buka sendiri bagian belt di motor, coba semprotkan secukupnya saat belt berputar sampai kelihatan agak basah, biarkan berputar dan kering kemudian ulangi 2-3x dan cukup dilakukan 1 atau 2 bulan sekali.
    Kalau tidak bisa ya bawa kebengkel dan minta mekanik menyemprotkan.
    1 kaleng 400cc untuk mobil sekitar 50rb bisa pakai bertahun-tahun.

    Suka

  3. vario 125 saya keluaran awal (maret 2012) penggantian vbelt kelipatan 25 ribu dan itu kata mekanik masih layak pakai (namun tetep ganti). yang utama agar awet itu, jangan kasar muterin gas nya. oya selama ini selalu pakai original. odometer saat ini 76 ribu km. kmrn waktu ganti, vbelt plus roller (paketan) ori seharga 164 ribu

    oya biasanya per 10 ribu, saya hanya membersihkan bagian dalaman cvt tanpa melakukan pelumasan. btw saya kurang setuju jika vbelt menggunakan belt dressing. vbelt harus bebas dari kontaminasi apapun. imho

    Suka

    • Sip juga bisa awet. Iya, muter gas kasar bisa mengurangi awet. tapi repotnya kadang memang butuhnya begitu. Contoh kalau sering kena macet, sering kena polisi tidur, tanjakan, dst.

      Yang dibersihkan apanya setiap 10 ribu.

      Untuk belt dressing, memang resiko juga bila ternyata aplikasinya nggak pas dan malah resiko putus kalau dipaksakan diperpanjang penggantiannya.

      Suka

      • area di cvt seiring waktu kan akan kotor. saya hanya membersihkan pakai kompresor dan kuas2 saja. kalo gak ada kompresor ya terpaksa pake acar tiup2 mulut wkwkwkkw. gak sampe bongkar2 kok. debu2 agak hitam sering nya yang ada di dalam

        Suka

  4. Xeon 2010 (karburator) yg saya pakai v-belt sempet 30 ribuan km belum sy ganti, padahal rute yg saya pakai 2 kali sebulan menempuh 118km untuk sekali jalan nonstop (jalur antar kota dalam propinsi) , dengan pemakain full throtle saat lengang, dan pelan saat kendaraan di depan ada kendaraan. Itu pun buka tutup gas ekstrim. Dan kontur jalanan yang mostly naik turun gunung.
    Karena jalur yg saya lewati itu sepi dan gak ada bengkel, dan rekomendasi pabrikan pada buku manual adalah ganti per 25 ribu, hampir gak pernah service kecuali saat service gratis di awal beli, ganti oli mesin dan oli transmisi sendiri, sering kelewat jadwal ganti oli transmisi karena speedometer mati, gak pernah bersihkan CVT, gak pernah ganti filter udara, maka demi alasan kenyamanan dan keselamatan akhirnya v-belt dan filter udara saya ganti. Itupun kondisi vbelt masih cukup bagus, hanya ada terlihat sedikit retak-retak halus pada v-belt yang menurut saya mungkin wajar dan masih sanggup dipakai hingga 10 ribu – 20 ribu km lagi. Dan jalur yang saya tempuh cenderung banyak polusi (asap hitam dari knalpot bis² & truk²).
    Sepertinya semuanya tergantung kualitas material saja. Atau mungkin juga faktor keberuntungan. Yang jelas, motor jadul kualitasnya lebih badak dibanding motor baru.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s