Pengunduran diri Dyan Dilato, sumber masalah ada di marshalnya dong?


Cerita soal pengunduran diri Dyan Dilato sebagai Head of Operation Sporting Mandalika Grand Prix Association (MGPA) asli membuat penulis jadi merasa prihatin juga.

Jadi banyak yang mengatakan bahwa bahwa Dyan Dilato telah menyinggung perasaan seluruh masyarakat NTB:
BREAKING NEWS: Bikin Sakit Hati Flag Marshal Sirkuit Mandalika, Dyan Dilato Mundur Dari MGPA

“Kami atas nama perusahaan penyelenggara mohon maaf atas perkataan beliau yang menyakiti hati masyarakat NTB terutama tim marshal,” kata Direktur Utama MGPA, Ricky Baheramsjah.

Aneh juga dibilang menyakiti hati masyarakat NTB, nggak sekalian bilang menyinggung perasaan orang satu Indonesia atau seluruh dunia saja? Padahal jelas jelas yang disinggung itu cuma marshalnya!

Dikesankan bahwa Dyan Dilato itu mundur karena masalah tersebut:

“Kami paham bahwa menghina dan apapun yang terjadi di lapangan bukanlah hal yang profesional,” lanjutnya. “Maka dari itu, beliau secara resmi telah mengundurkan diri dari MGPA. Kedepannya segala sesuatu yang dilakukan beliau tidak lagi menjadi tanggung jawab MGPA,” ungkap Ricky

Dyan Dilato sendiri mengakui bahwa ia telah menghina marshal, namun harusnya itu bukan pernyataan resmi:
Dyan Dilato Singgung Marshal Hanya Candaan di WA, Minta Maaf ke Warga NTB

“Saya Dyan Dilato tidak pernah membuat pernyataan apapun ke seluruh media khususnya media yang memuat berita mengenai ajang IATC tentang marshal,” kata Dyan Dilato dalam keterangan tertulisnya, di Praya, Lombok Tengah, Selasa (16/11). Meski membantah, Dyan mengakui ada tulisan tersebut. kata dia, tulisan itu hanya WhatsApp (WA) candaan kepada teman dan bukan secara resmi, apalagi membawa nama MGPA. “Itu hanyalah candaan di WA,” ujar Dyan Dilato.

Hinaannya sebagai berikut:
Begini Cerita Awal Dyan Dilato Singgung Tim Marshal Warga NTB: Sebut Ndeso dan Katrok

Seperti diberitakan, ajang Idemitsu Asia Talent Cup (IATC) pada 13 – 14 November lalu diundur akhir pekan ini lantaran marshal yang bertugas tidak berkompeten. Pernyataan tersebut dilontarkan Dyan Dilato setelah terjadi beberapa kali insiden akibat kesalahan marshal saat bertugas.

Marshal adalah petugas yang bertanggung jawab atas keselamatan pembalap. Mereka ditempatkan di berbagai titik bahaya di sekitar trek balap untuk membantu jika terjadi tabrakan, kecelakaan, atau masalah trek. Namun, marshal yang disiapkan di ajang IATC Mandalika kurang responsif sehingga perlombaan sementara waktu ditunda.

“Marshallnya katro semua, ndeso. Bukannya bertugas sebagai marshal, tetapi malah pada nonton balap. Ini masalahnya bukan jumlah marshal, tetapi kualitasnya,” ujar Dyan Dilato kepada sejumlah awak media beberapa hari lalu.

Pernyataan Dyan Dilato spontan memicu perdebatan dan menarik perhatian banyak pihak. Terutama bagi warga NTB yang tidak terima dengan pernyataan Dyan.

Jadi pernyataan tersebut dikeluarkan karena kekecewaan terhadap kesiapan dari marshal. Perlu jadi catatan bahwa sepertinya pelatihan marshal ini sepertinya juga merupakan bagian dari tanggung jawab Dyan Dilato:
Setelah Mendaftar, Ratusan Calon Marshal MotoGP Dapat Pelatihan

Sementara itu, Head Operation Sporting Mandalika International Street Circuit, Dyan Dilato menegaskan, untuk menghadapi event MotoGP ini memang saat ini ratusan pemuda-pemudi dilatih pendidikan Marshal. Jumlah peserta ada sekitar 450 orang yang sebagian besar kelompok pemuda yang di dididik untuk memahami tugas dan fungsi Marshal. “Setelah pelatihan ini, maka akan ada lagi pelatihan lanjutan. Namun nanti setelah sirkuit jadi,” ungkap Dyan Dilato.

“Selain flag marshal ada beberapa petugas marshal yang bertugas di dalam lintasan sirkuit, Course Marshal bertugas menjaga lintasan agar selalu dalam keadaan layak untuk lomba dan membantu apabila ada kendaraan peserta yang mengalami gangguan. Paddock Marshal apabila diperlukan membantu peserta, baik itu informasi dari pimpinan lomba atau hal-hal lain selama peserta berada di paddock area,” tegasnya.

Disampaikan juga bahwa seorang Marshal dituntut disiplin dan kerja keras. Sebelum pertandingan Marshal harus stand by di pos masing masing, dan akan di cek oleh petugas kesiapannya. “Mereka harus berdiri dipinggir lintasan untuk di cek kesiapannya, baru kemudian ditempatkan di pos masing masing,” tegasnya

Kalau dari penjelasan tersebut, jelas bahwa yang pernyataan dari Dyan Dilato lebih cocok disebut sebagai teguran. Tapi ternyata bukannya marshalnya yang dibenahi, tapi direkturnya yang ditendang. Atau memang bisa jadi begitu tahu kualitas marshalnya seperti itu, Dyan Dilatonya memilih mengundurkan diri saja daripada kalau nanti ada apa apa, ia yang kena.

Lagi lagi ini jadi contoh kekurang disiplinan setelah sebelumnya ada vlogger pegang pegang motor tim sembarangan:
Kasus unboxing motor di Mandalika bisa batalkan MotoGP di sana?

Lagi lagi respon media memprihatinkan. Yang salah marshalnya, tapi yang dibikin rame Dyan Dilatonya. Sama seperti sebelumnya, yang masalah itu pegang pegangnya, yang diributkan cuma soal postingnya. Nggak terdengar adanya hukuman terhadap yang pegang pegang atau yang bengong saat harusnya mengawasi balapan.

Kalau caranya begini, nanti bakal ada yang menganggap menjelajahi garasinya tim ketika tidak ada orangnya itu no problem. Ada orang / marshal yang seenaknya selfie ketika motor diparkir. Marshalnya juga tetap santai santai saja, ada kecelakaan nggak sigap. Lha wong sudah jelas salah tapi tetap dianggap nggak salah.

Berikut contoh mengapa penulis merasa perlu membahas hal ini:
Valentino Rossi Akhirnya Ungkap Alasan Menoyor Kepala Marshal di MotoGP Malaysia

“Mereka seharusnya menyelamatkan kami setelah jatuh dan memastikan keselamatan kami para pembalap, selfie bukan bagian pekerjaan mereka,” jelas Rossi.

Walau memang ada saat di mana seorang marshal itu dibiarkan melakukannya:

Tapi kesempatan itu adalah ketika diijinkan, bukan dipaksakan.

Maaf, tapi penulis jadi ngeri membayangkan nantinya.

Update, klarifikasi Dyan Dilato:
Jawaban Dyan Dilato atas Isu Marshal di Sirkuit Mandalika hingga Diduga Hina Warga NTB

“Itu tidak benar,” katanya.

Dyan mengaku heran kenapa muncul berita seperti itu. “Yang nggak suka itu mas, pake logika aja mas, mana mungkin seorang saya, Dyan yang berpendidikan secara formal ngomong ke media, eh itu medianya katro, ndeso. Mungkin nggak mas ngomong kaya gtu mas?

Nggak mungkin dong mas. Saya itu biasa kalau sama temen-temen bercanda di WhatsApp. Lo kenapa lo begini-begini, saya bilang aduh. Karena kita kan kalau mau berteman, tapi kita kan nggak tahu nih kadang kalau temen di grup ada persaingan atau kaya gimana dia melihat saya. Jadi percaya gitu kan.

Tapi di forword nggak kaya wartawan ke temen-temen. Tapi cuma kan itu jaman sekarang kan cepet banget mas. Initinya adalah saya tidak pernah memnbuat pernyataan itu. Itu jelas

Dari penjelasan ini jelas bahwa kekacauan terjadi karena kurang latihan dan koordinasi.

23 respons untuk ‘Pengunduran diri Dyan Dilato, sumber masalah ada di marshalnya dong?

  1. Gimana nanti pas balapan ya? Marshal ikutan nonton, bikin konten YouTube, ikut rebutan foto selfie sama pembalap, belum lagi ntar ada yg bawa anaknya, tetangganya, orang sekampung diajak semua wkwkwk….

    Disukai oleh 1 orang

  2. Coc mandalika memang pak Dyan dilato

    Pengunduran diri sebagai bentuk pertanggungjawaban karena kegagalan event ATC seminggu sebelumnya. Entah itu karena marshal entah itu krn kesiapan sirkuit memang tetap jadi tanggungjawab beliau meskipun problem bisa jadi dari anak2nya (marshal) yg beliau didik & training….

    Setau saya beliau memang ceplas ceplos, tapi mengingat posisi beliau di MGPA , IMI , dan FIM , cara komunikasi seperti itu bukan pro , tidak etis , bahkan kadi bumerang (dan kejadian juga). Dan karakter orang itu tidak akan berubah

    Bisa jg ada sangkut paut politiknya d dunia racing nasional jg, sy baru tau klo beliau ternyata kurang disukai oleh beberapa pemilik tim balap, manajer, mekanik dll krn cara komunikasi yg seperti itu

    Suka

    • Baru tahu soal itu. Tapi menyembunyikan masalah juga kurang cocok untuk sirkuit yang bakal mewakili wajah Indonesia. Harusnya yang dibikin rame itu marshalnya, demi masa depan. Memfokuskan berita ke Dyan Dilato jelas sebuah diversion.

      Dyan Dilato itu mundur karena sepertinya sudah prediksi masalah marshal bakal jadi besar sepertinya. Daripada jadi kambing hitam, maka ia pilih mundur. Alasan saya mengatakan ini:
      Impor marshal itu memalukan, dibalik mogoknya marshal lokal, tidak dikasih makan, minum dan sholat?

      Suka

      • Import marshal bukan hal yg memalukan , bahkan tinton sprapto pemilik sentul saat event internasional , marshal sentul sirkuit pun dikirimkan ke ajang F1 di australia ataupun event di asia tenggara

        Qatar sirkuit saat pertama motogp 2004 , memboyong semua marshal dari sirkuit valencia untuk event di Qatar

        Jadi sudah tidak ingin mengulangi kesalahan yg sama dengan waktu yg gak sampai seminggu. Import marshal yg sdh pro itu sah sah saja

        Suka

        • Kalau impornya sebelum kasus (balapan ditunda) itu normal. Tapi kalau terjadi sesudah kasus, maka itu memalukan. Apalagi ketika marshal lokal nggak dikasih makan, nggak dikasih minum, lalu kemudian impor dari luar yang pastinya bakal dibayari ongkos transportasi dan akomodasi termasuk hotelnya. Memilukan.

          Suka

          • Kira2 aja ni om setelah kasus ATC ditunda krn marshal yg kurang terlatih dan minim pengalaman…

            Trus gambling lagi event WSBK marshal yg sama tanpa ada yg pro mendampingin. Trus kejadian macam minggu kemaren marshal lokal kurang cekatan….

            Maka sudah bakal jadi bulan2an lagi dari netizen dan parahnya , bisa mencoreng nama indonesia dimata dorna dan fim krn urusan teknis ini

            Memang klo sdh kejadian ada yg dipecat / mengundurkan diri, ya itu keharusan dan sekalian bersih2 management ulang…

            Toh dari kasus ini jadi tau bagaiman pola rekrutmen marshal, pelatihannya , dan hasil akhirnya minggu kemaren….

            Sama halnya klo event internasional yg semisal marshal sirkuit ada kesalahan , yg bertanggung jawab tetep race directornya.

            Suka

            • Perlu tahu bahwa recruitment marshal mulai diberitakan dari April 2021. Bukan cuma kemarinnya saja.

              Kalau misal marshalnya kapok karena berdiri dari pagi sampai malam nggak sebanding dengan makan sekali, terus nggak balik. Bakal tetap ada krisis jumlah marshal. Harusnya dijelaskan di awal bahwa jadi marshal bakal cuma dapat makan sekali dan ongkos transport pas pasan.

              Mestinya bukan Dyan Dilato yang turun tangan langsung mengatur, tapi lewat koordinator yang katanya orang lokal juga. Kalau koordinator ini juga tidak terlatih. Bakal sama saja. Dyan Dilatonya sendiri sudah bilang nggak siap dari awal.

              Kehadiran yang impor tentu juga belum tentu menjawab karena bisa saja terkendala bahasa.

              Suka

            • ” Karena RC dan OC lokal garapan PP IMI gak pernah melek training certificate dari FIM Asia…✌️”

              Klo kata om senap*nd*

              FIM homologasi official sirkuit mandalika baru 16 november kemaren , skeligus baru tau klo marshalnya newbie semua… 😂

              Suka

          • Saya rasa ” bossman” nya sdh diberhentikan krn kurangnya
            “komunkkasi” dan koordinasi dgn marshal

            Sy rasa kasus marshal kelaparan tidak akan kejadian lagi.

            Pola komunikasi menyalahkan bawahan tak akan menyelesaikan masalah dan tak akan menghasilkan solusi.

            Salah satu pendapat pelaku balap sendiri yg menyikapi gaduh marshal saat ATC

            https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10220503554481945&id=1325153456

            Kebetulan sy jg komunikasi dgn senap*nd* , pelaku balap dan pemilik team balap HSR, saat sy buka obrolan ttg gaduh marshal dan pak Dyan dilato begini responnya

            “Krn dia lahir bukan dr sportsman, dia anak orang kaya yg kbtln hoby motor trs nyemplung ke IMI tanpa adaptasi .
            Makanya sering bikin blunder memalukan akibat kesotoy annyasendiri”

            “Contoh ketika dia biasa ngegas moge buat happy2x ikutan turun balap pro, diatanya KIS dan Lisence plonga plongo dan ngeyel gegara sbg pengurus PP IMI.
            Sontak dibully warga balap dan media kala itu…🤭✌️”

            “Dia awal posisinya di IMi, dia bikin balap academi/pesantren, anak buah ane dinDocters yg jd Pengurus harian ngurus pembalap, materi, fasilitas dll…
            Curhat ke ane betapa bangkenya Dian D*l*t* gak becus ngurus…”


            Makanya di eveng balap ini cuam satu yg layak saya puji, mas Edy Sapotra ( Ohl*ns Indonesia ) yg sperti biasa all out pk duit pribadi buat suksesnya hajat ini.
            Sebaliknya, liat sepak terkang Dian Dilato, msh gak berubah …🤭🤪”

            “Sama2x Pengurus PP IMI, tapi beda karakter dan gaya”

            “Sering pamer ID card dr FiM dll , khas orang individualis bukan team work..
            Beda dgn mas Edy yg humble.🙏”

            “Itulah bedanya real Sportsman dan Karbitan🤪”

            Itu tanggapan beliau hehehehe

            Tanggapan Tinton pun menyiratkan hal yg sama

            Tolong komen saya jangan dijadikan artikel ya 🙏

            Nanti banyak yg mengamini 😂😂😂

            Suka

            • ok. Dari tanggapan tinton pun sudah bilang punya orang orang di sana. Sebenarnya cukup aneh karena disebut latihan cuma pakai virtual. Dan dari latihan virtual itu saja rupanya banyak salah.

              Anggap saja Dyan Dilato kemampuannya kurang, tapi tentunya ini bukan kerja dari satu orang saja. Kemampuan yang bawah bawahnya juga penting. Dan perlu jadi catatan juga bahwa kerja mereka tidak sesuai apa yang diberikan kepada mereka. Dana juga sepertinya bukan kewenangan direktur sporting. Karena dari tintonnya juga tahu marshalnya nggak dapat bayaran.

              Menurut saya pak Tinton itu berlebihan, dibilang 12 jam orang Indonesia bisa kuat, sementara orang barat 8 jam sudah nggak kuat. Berlebihan juga bila di sirkuit yang baru ini diharapkan bahwa yang sukarela beneran, yang mau kerja tanpa bayaran dalam kondisi yang ekstrem. Mungkin memang benar di luar negeri beneran nggak dibayar dan beneran sukarela kemauan sendiri. Tapi itu karena kecintaan terhadap dunia sport di sana. Mereka sudah matang. Sementara di sini tidak.

              Untuk awal harusnya jangan sukarela tapi minim ada insentif misal 100 ribu per hari. Jangan cuma sekali makan seharian. Apalagi di sekitar mandalika mestinya harga makanan tidak murah. Dan entah, apakah akomodasi bakal ditingkatkan. Karena jatah makanan sekali sehari itu mestinya adalah kebijakan, bukan karena salah komunikasi.

              Walau bosnya diganti, ketidak siapan marshal tetap jadi masalah. Aneh juga mengapa ketidaksiapan ini baru diketahui setelah acara dilakukan?

              Suka

          • Saya rasa ” bossman” nya sdh diberhentikan krn kurangnya
            “komunkkasi” dan koordinasi dgn marshal

            Sy rasa kasus marshal kelaparan tidak akan kejadian lagi.

            Pola komunikasi menyalahkan bawahan tak akan menyelesaikan masalah dan tak akan menghasilkan solusi.

            Kebetulan sy jg komunikasi dgn senap*nd* , pelaku balap dan pemilik team balap HSR, saat sy buka obrolan ttg gaduh marshal dan pak Dyan dilato begini responnya

            “Krn dia lahir bukan dr sportsman, dia anak orang kaya yg kbtln hoby motor trs nyemplung ke IMI tanpa adaptasi .
            Makanya sering bikin blunder memalukan akibat kesotoy annyasendiri”

            “Contoh ketika dia biasa ngegas moge buat happy2x ikutan turun balap pro, diatanya KIS dan Lisence plonga plongo dan ngeyel gegara sbg pengurus PP IMI.
            Sontak dibully warga balap dan media kala itu…”

            “Dia awal posisinya di IMi, dia bikin balap academi/pesantren, anak buah ane dinDocters yg jd Pengurus harian ngurus pembalap, materi, fasilitas dll…
            Curhat ke ane betapa bangkenya Dian D*l*t* gak becus ngurus…”


            Makanya di eveng balap ini cuam satu yg layak saya puji, mas Edy Sapotra ( Ohl*ns Indonesia ) yg sperti biasa all out pk duit pribadi buat suksesnya hajat ini.
            Sebaliknya, liat sepak terkang Dian Dilato, msh gak berubah …”

            “Sama2x Pengurus PP IMI, tapi beda karakter dan gaya”

            “Sering pamer ID card dr FiM dll , khas orang individualis bukan team work..
            Beda dgn mas Edy yg humble.”

            “Itulah bedanya real Sportsman dan Karbitan”

            Itu tanggapan beliau hehehehe

            Tanggapan Tinton pun menyiratkan hal yg sama

            Tolong komen saya jangan dijadikan artikel ya 

            Nanti banyak yg mengamini 🤭🤭🤭🤭

            Suka

          • Kenapa ketidak siapan marshal ketahuan semua saat event

            Ya karena fim steward dan Dorna sport baru berada di mandalika saat event berlangsung…

            Dan baru ketahuan semua kekurangannya….

            Suka

            • ” Karena Racing Comite dan OC lokal garapan PP IMI gak pernah melek training certificate dari FIM Asia…✌️”

              Klo kata om senap*nd*

              FIM homologasi official sirkuit mandalika baru 16 november kemaren , skeligus baru tau klo marshalnya newbie semua… 😂

              Sertifikasi seperti itu ranahnya FIM , Bukan Dorna

              Dan pak Dyan D*l*to itu orang FIM jg…

              Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.