Ternyata bro Adhie aktif banget menjelek jelekkan penggunaan minyak goreng sebagai aditif oli mesin


Sebelumnya penulis sempat membahas bagaimana bro Adhie menggunakan datanya bro Turboman untuk klaim bahwa minyak goreng itu jelek untuk mesin:
Hoax minyak goreng versi bro Adhie, uji oli diambil dari wajan diklaim diambil dari Innova

Saat itu penulis sudah kasih link di serayamotor. Penulis pikir bro Adhie ini bakal sadar bahwa data yang dipakai itu tidak relevan. Tapi ternyata bro Adhie inilah penipunya. Karena hari ini penulis lihat si bro Adhie tetap saja menyebar data nggak relevan ini di bekakas:
https://www.facebook.com/groups/komunitasbekakas/permalink/609018640153881/

Padahal sebenarnya itu ambilnya dari wajan:
https://www.serayamotor.com/diskusi/viewtopic.php?f=34&t=27382&p=1028358#p1028358

Ia membandingkan dengan data yang konon merupakan hasil dari pemakaian di nmax sejauh 9500 km:

Yang berikut katanya 5 ribu km:

Dari format yang sama, yang pertama di sensor sumbernya. Yang kedua adalah my.cat.com, yang merupakan websitenya perusahaan alat berat Caterpilar:

Asli penulis jadi meragukan omongannya bro Adhie? jangan jangan bohong lagi?

Penulis coba lihat profilnya. Kaget juga karena promo Liqui Moly:

Jangan jangan ini bro Adhie yang sama dengan yang bilang bahwa Touring High Tech Special Diesel Oil SAE 15W-40 adalah oli yang ada PAO esternya:
Ketika oli mineral Liqui Moly disebut sebagai sintetik ester, mengapa bisa terjadi ???

Padahal di websitenya tertulis jelas bahwa itu oli mineral:

Entah mengapa kok getol banget menipu begitu. Tapi yang seperti itulah “data” yang sering dipakai oleh mereka. Nggak relevan, tapi dipaksakan. Yang nggak ngerti ya pasti ketipu. Penulis sudah message (karena malas ngomong dengan penipu) yang ketipu, dan ternyata mereka cukup terbuka.

Di grup itu ada komentar bro Asep Subagja:

Asep Subagja
Izin sharing mbah dari grup sebelah, sy di arahkan sama senior saya wa Deddy namanya utk ngetik ini, gak tau bener apa engganya, jangan dianggap serius ya..
Ada bbrapa point yg harus saya sampaikan kaitan migor sebagai aditif ini:
~ Saya pribadi sangat tdk menganjurkan penggunaan migor sebagai aditif, karena sampe saat ini belum ada data valid yg memang menunjukan hasil yg baik dalam penggunaan jangka panjang migor sebagai aditif oli mesin.
~ ada bbrapa jurnal penelitian luar dan dalam negri kaitan migor sebagai aditif, kok masih di tentang saja:..
Begini, sebagian yg saya baca penelitian2 tsb lbh ke secara general masalah wear/scar dll, padahal bagi kita cukup simpel, pake di kendaraan dan lakukan uji UOA, itu lbh mengena, lbh menginterpretasikan hasil yg bener2 aktual..
Pada salah satu jurnal yg melakukan four ball test wear yg refer juga ke test method ASTM di dapat hasil sbb:
– Penggunaan migor 20~40% menunjukan hasil yg lbh baik daripada pure engine oil.
– Penggunaan migor 100% hasilnya sangat tdk stabil dan jauh lbh buruk dari pure engine oil.
– penggunaan 60~80% migor hasil nya lebih buruk dari pure engine oil.
*oli yg dipakai Mineral base
Migor lover senang melihat ini, tuh kan penggunaan 20~40% hasil wear nya lbh baik dari pure engine oil..
Sy cuma bilang gini, itu hasil 4ball test wear bkn hasil aktual di mesin..
Di mesin itu variabelnya banyak, selain pelumas terkena shear dan temperatur yg tinggi dia juga terkena oksidasi asam dari combustion chamber, kena dilute bbm juga, soot, sulfur dan lainya..
*migor tdk tahan asam, bisa mengental dan jd sludge lbh cepat daripada engine oil termurah sekalipun..
Kesimpulan dari nubi gini:
– penggunaan migor <40% dalam waktu singkat 5000km, karena bisa saja migor tsb rusak karena oksidasi dan malah merusak oli. Kondisi dsini si migor sdh berubah perannya sebagai kontaminant bagi si oli..
#semoga di pahami
#cmiw
#sy tdk mendiskreditkan para pengguna migor, itu hak anda dan saya menghormatinya.

Juga dari bro Olwan William:

Olwan William
kasian kalo cuma ikut2an tanpa paham jelas apa maksudnya, apa manfaat dan risikonya.
minyak goreng itu utk memasak, bukan utk mesin. itu fakta.
data 2019 menunjukkan indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar dunia. jika memang benar minyak goreng sangatlah baik sebagai aditif atau pelumas.. wah wah
1. raksasa pabrikan pelumas dunia macam shell,castrol,motul pasti sudah beramai-ramai bangun pabriknya di kalimantan dan sumatra. faktanya tidak.
2. semua kendaraan operasional pabrik minyak goreng akan pakai, faktanya tidak.

Yang dari bro Olwan William bisa diabaikan, tapi yang dari Asep Subagja itu perlu dipertanyakan. Lebih licin 20% karena dicampuri minyak goreng itu sudah sepakat ada penelitiannya. Tapi tahu dari mana bisa berani klaim berikut: “migor tdk tahan asam, bisa mengental dan jd sludge lbh cepat daripada engine oil termurah sekalipun..“. Mana datanya? mana buktinya? Mana penelitiannya bisa berani klaim seperti itu?

Jadi sebenarnya orang LDIC itu juga berani ngomong tanpa data. Yang ngomong orang LDIC pasti pakai data itu jelas pembohong.

15 respons untuk ‘Ternyata bro Adhie aktif banget menjelek jelekkan penggunaan minyak goreng sebagai aditif oli mesin

  1. Pario125 sy yg sudah FD, saat ini pake mesransuper+bimoli (80-20) masih tercapai 2100 KM, bila nanti di 3000 KM pemakaian mesin masih halus apakah aman bila saya teruskan? ato langsung ganti oli?

    Suka

  2. Minyak goreng mengandung senyawa ester ” fatty acid methyl ester” pasti oxidationya tinggi kalau yang dipakai baca sebagai base line FTIR adalah general lubes non ester, mengapa?

    Karena oxidation di pelumas itu mengukur senyawa asam hasil oksidasi, biasanya berbentuk asam lemah seperti karboksilat, gugus ini mempunyai serapan di panjang gelombang ~ 1750/cm, nah panjang gelombang ini sama dengan panjang gelombang senyawa ester.

    Ketika membaca oxidation by FTIR, maka lab akan menggunakan base line (seharusnya adalah fresh oil dari pelumas yang digunakan) sebagai data awal, kemudian membaca sample ex. monitoring untuk kemudian di extract seberapa besar kenaikan oxidasinya pada respective lambda, kalau base line yang digunakan adalah senyawa non ester untuk pelumas yang mengandung ester ya pasti oxidationnya tinggi, gak perlu ditest pada used oil .. coba saja dicek oxidation pada fresh minyak goreng..sudah pasti tinggi.

    Mudah2an cukup mudah dipahami..

    Akan tetapi dalam membaca used oil monitoring sebaiknya tidak melihat hanya pada satu parameter tertentu, harus holistik pada kombinasi beberapa parameter untuk menarik kesimpulan yang benar terkaik kondisi oli dan engine

    Suka

    • Kalau ngomong jangan ngawur ya. Pernyataan “Minyak goreng mengandung senyawa ester ” fatty acid methyl ester”” itu salah. Yang benar adalah FAME itu dibuat dari minyak kelapa sawit:
      Cara Kerja: Produksi Biodiesel

      Biodiesel adalah bahan bakar terbarukan berbahan baku lemak hewani, maupun nabati berupa, metil ester asam lemak (Fatty Acid Methyl Ester/ FAME) yang telah lama disebut sebagai pengganti minyak bumi (Petroleum Diesel). Salah satu minyak nabati penghasil bahan bakar biodiesel adalah minyak kelapa sawit. Sebagai sumber minyak nabati yang paling produktif, 1 hektar tanaman kelapa sawit mampu menghasilkan 3,5 ton minyak nabati.

      Mengapa oksidasi harus pakai uji lab? Memang oksidasi nggak kasat mata?

      Suka

      • Baik Pak, semoga Bapak sehat selalu..perbedaan pendapat saya rasa wajar, karena mungkin ilmu saya baru sebatas yang diketahui…saya tertarik untuk berkomentar karena merasa bahwa blog memberikan kesempatan untuk orang berpendapat dengan tujuan adalah brainstorming, bukan saling menyalahkan apalagi menjelekkan .. yang pasti tujuannya adalah untuk dunia pelumas menjadi lebih baik di Indonesia

        Bapak sedang membahas oksidasi dari data lab melalui uji FTIR, makanya saya terangkan sedikit kalau baca oksidasi by FTIR itu seperti apa..kalau by visual tentu bapak bisa lihat warnanya jadi hitam..

        Saya hanya menerangkan fenomena mengapa terbaca pasti tinggi oxidation di analisis used oil monitoring kalau ada content minyak gorengnya? karena metode standar nya adalah FTIR, yang dibaca FTIR untuk oksidasi adalah berupa asam lemah dan minyak goerng juga mengandung asam lemah..jadi kalau mau bacanya akurat base linenya harus pelumas yg sama agar terbaca oxidationnya rendah…kalau bapak pakai base line pelumas general yang tidak mengandung ester maka ketika dicek pelumas yg ada content minyak gorengnya walaupun masih fresh, oxidationnya pasti tinggi..

        Jadi oxidation yang dibaca bukan karena pelumas telah rusak, tetapi lebih ke by naturenya memang ada kandungan asam lemah…mudah2an jelas ya..

        Salam..

        Suka

        • Berikut grafik pembetukan FAME. Bila anda masih ngeyel minyak goreng menghasilkan FAME, percuma kita debat:

          Berikut penjelasan versi Noria untuk soal uji oksidasi dengan FTIR:
          Lubricant Oxidation and Remaining Useful Life Testing

          Secara konvensional, analisis oli bekas berfokus pada pengukuran produk sampingan oksidasi oli dasar, seperti asam yang terbentuk sebagai akibat oksidasi, bukan pada kemampuan oli untuk menahan oksidasi. Misalnya, uji AN menggunakan reagen kalium hidroksida (KOH) untuk menetralkan asam dalam minyak. Volume reagen basa yang dibutuhkan untuk mencapai titik netralisasi merupakan fungsi dari konsentrasi asam dalam minyak.

          Premisnya adalah ketika minyak teroksidasi, asam organik diproduksi dan terkumpul dalam minyak, menyebabkan AN naik. Teknik lain yang digunakan untuk mendeteksi oksidasi base oil adalah analisis FTIR. Analisis FTIR secara efektif mengukur konsentrasi berbagai bahan organik atau metalo-organik yang ada dalam minyak. Ketika minyak dioksidasi, molekul minyak hidrokarbon dapat menjadi produk sampingan oksidasi yang larut dan tidak larut. FTIR mengukur akumulasi produk sampingan ini.

          Perubahan viskositas biasanya merupakan indikator tertinggal dari oksidasi. Saat minyak terdegradasi, berat molekul rata-rata meningkat, menghasilkan peningkatan viskositas. Terlepas dari validitas semua pengukuran ini, faktanya tetap bahwa mereka semua mengungkapkan kerusakan pada base oil setelah itu terjadi, yang tidak ideal karena pemeliharaan terkait harus, menurut definisi, responsif. Skenario yang lebih baik adalah mengukur dan mengevaluasi kemampuan oli untuk menahan oksidasi, RUL-nya, yang memfasilitasi perawatan pelumas proaktif.

          Dari penjelasan itu implikasinya adalah menentukan minyak goreng teroksidasi jangan pakai acuan oksidasinya oli mesin. Karena yang dideteksi FTIR itu adalah perubahan bahan. Harus dibandingkan antara minyak goreng baru dengan yang sudah teroksidasi 100%.

          Dan anda berani klaim bahwa semua minyak goreng bakal sudah teroksidasi parah ketika masih dalam kemasan. Ini implikasinya anda mengklaim bahwa semua minyak goreng itu berbahaya bagi kesehatan:
          Palm oil: biochemical, physiological, nutritional, hematological, and toxicological aspects: a review – National Library of Medicine

          Minyak sawit telah digunakan dalam keadaan segar dan/atau pada berbagai tingkat oksidasi. Oksidasi merupakan hasil pengolahan minyak untuk berbagai keperluan kuliner. Namun, sejumlah besar minyak sawit yang umum digunakan berada dalam keadaan teroksidasi, yang berpotensi membahayakan fungsi biokimia dan fisiologis tubuh. Tidak seperti minyak sawit segar, minyak sawit teroksidasi menginduksi profil lipid yang merugikan, toksisitas reproduksi dan toksisitas ginjal, paru-paru, hati, dan jantung. Ini mungkin sebagai akibat dari pembentukan racun yang dibawa oleh oksidasi.

          Itu referensi dari NIH. Klaim anda mengerikan.

          Suka

          • My mistake saya harusnya menyebut Fatty acid…saya paham FAME itu bisa dibuat dari minyak goreng melalui proses esterifikasi..dan biosolar adalah solar + FAME, atau bisa selain FAME tergantung source bionya..

            Sorry Pak, bapak tidak menangkap maksud saya dan malah berkesimpulan dari pernyataan saya minyak goreng sudah teroksidasi parah ketika dikemasan, sangat jauh dari maksud saya ..konteks yg saya bahas adalah di used oil monitoring dengan FTIR mengapa oxidation tinggi, jangan melebar kemana2, kata2 saya sejalan kan dengan pernyataan bapak, harus menggunakan base line yang sama untuk uji oxidation FTIR agar tidak terbaca false reading..

            Suka

  3. […] Tapi ini juga membuat penulis heran karena menurut jurnal jurnal, minyak goreng itu oksidasinya lebih parah. Mereka pakai uji oli macam apa ya? Karena kalau pakai FTIR, sis Ida memberikan info bahwa bila uji pelumas FTIR diterapkan pada minyak goreng, maka hasilnya akan salah, angka oksidasi akan terdeteksi tinggi, karena dari base sudah beda: Ternyata bro Adhie aktif banget menjelek jelekkan penggunaan minyak goreng sebagai aditif oli mesin […]

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.