Hasil mengejutkan dari uji panggang oli 1-5: minyak goreng jauh lebih tahan oksidasi bahkan dibanding yang full sintetik!


Hasil dari 5 kali uji panggang oli memberikan beberapa kejutan. Misalnya dari tempat terbentuknya kerak, terjadinya oksidasi pada besi yang dicelupkan, parah tidaknya kerak, kecepatan menjadi hitam, kecepatan menguap dan kecurigaan banyaknya kandungan air pada oli sintetik lama atau yang sudah dibuka lama. Dan tentunya soal minyak goreng yang ternyata lebih tahan oksidasi.

Yang pertama adalah kerak. Kerak itu ternyata terbentuk di bagian pinggiran yang nggak terkena oli!

Perhatikan bahwa penulis selalu berusaha untuk menjaga agar olinya tidak sampai terbakar. Bila sampai terbakar, maka penulis turunkan api kompor gasnya, seperti yang terjadi di percobaan kelima. Jadi di percobaan ini, kerak tidak terbentuk karena pembakaran!

Penulis sengaja melakukan percobaan dengan api kecil karena penulis ingin mengetahui bagaimana kemampuan oli ketika dipanasi tapi tanpa terbakar. Berbeda dengan youtuber yang lain, penulis tidak menggunakan tabung pyrex tapi menggunakan plat nomor yang diberi cekungan. Selain karena malas beli, penggunaan dari plat menurut penulis akan membuat panas menjadi lebih merata daripada menggunakan tabung di atas lilin:
Eksperimen Bakar Oli untuk Adu Kualitas Oli Mobil 5W-40 (Ditest Pakai Kamera Thermal)

Ataupun bila pakai torch:
Eksperimen Oli mesin – uji kualitas oli mesin di suhu panas || engine oil experiment

Sepertinya sudah merata karena penulis beberapa kali menukar posisi oli dan hasilnya selalu konsisten. Walau ada juga keterbatasannya, yang panasnya merata cuma 4 di tengah saja.

Kembali lagi ke tempat terjadinya kerak, kerak justru tidak muncul di bagian yang kena oli. Entah apakah timbulnya kerak ini terjadi di bagian yang tidak kena uap oli.

Yang menarik juga adalah oli berbeda menghasilkan kerak yang berbeda juga. Yang paling parah adalah prima xp, yang konsisten jadi yang paling parah selama beberapa kali percobaan. Walau anehnya prima xp termasuk yang paling lambat menghitam:

Yang tidak menghasilkan kerak adalah Amsoil signature. Castrol GPS juga memberikan kerak lebih sedikit. Kerak minyak goreng bisa dibilang rata rata:

itu kiri bawah adalah minyak goreng bimoli, atasnya amsoil signature. Kanan bawah Redline, atasnya castrol gps, atasnya prima xp.

Perhatikan bahwa Amsoil Signature adalah oli yang di bungkusnya bertuliskan 100% synthetic:

Sementara itu oli Redline disebut all synthetic dan castrol gps disebut synthetic based:

Perlu jadi catatan bahwa castrol gps merupakan oli tahun 80an dimana belum ada perseteruan antara castrol dan mobil 1 soal oli grup 3 diklaim sintetik. Keduanya rencana akan penulis coba di nmax.

Dibanding dengan oli yang mengklaim dirinya sebagai berbahan sintetik, minyak goreng ternyata jauh lebih tahan terhadap oksidasi, bila kita menggunakan perubahan warna sebagai indikasi. Hal ini cukup mengejutkan penulis karena selama ini sering disebut di penelitian bahwa daya tahan terhadap oksidasi merupakan kelemahan minyak goreng. Banyak juga orang yang menyebut bahwa kalau pakai minyak goreng langsung ngesludge, langsung oksidasi parah dst. Tapi justru faktanya sebaliknya?

Atau karena yang meneliti nggak pakai Bimoli?

Hal yang menarik lainnya, kerak dari minyak goreng ini sifatnya beda dari oli mesin. Maaf tidak didokumentasikan, tapi ketika terkena larutan sabun cuci bubuk, kerak dari minyak goreng jadi mudah mengelupas. Beda dari kerak oli mesin.

Selain soal kerak, yang mengejutkan juga adalah dari kecepatan penguapan. Prima XP menjadi oli yang paling cepat menguap selama beberapa kali pengujian. Pengujian terpaksa dihentikan bila prima xp sudah habis:

Hal ini juga terjadi ketika prima xp dicampur dengan bimoli. Kesannya di prima xp di campuran menguap terlebih dahulu meninggalkan sisa campuran bimoli yang belum menguap:

Campuran prima xp dan bimoli yang kiri atas. Kanan atas adalah prima xp saja.

Fakta mengejutkan berikutnya adalah soal timbulnya oksidasi pada besi. Atas saran bro Gerd Paksy, penulis menambahkan besi ke olinya. Requesnya sih bola gotri bearing, tapi penulis gantikan dengan paku yang masih dalam kondisi baik, tidak berkarat sama sekali. bisa dilihat di percobaan ketiga.

Dari hasil uji ini, besi menghitam terjadi seiring dengan oksidasi dari olinya. Sehingga yang dicelupkan minyak goreng paling sedikit (kelihatannya) daripada yang di oli mesin. Yang paling parah adalah di PTT:

Yang kiri itu bimoli, yang kanan itu PTT. Maaf bila kurang terlihat, tapi yang di PTT itu lebih hitam.

Fenomena lain adalah mendidih. Entah mengapa mendidih terjadi pada oli sintetik. Oli Prima XP, Total, PTT dan Bimoli tidak menunjukkan efek mendidih. Di percobaan kelima:

Kiri bimoli. bawah redline. kanan castrol gps. atas amsoil.

Di percobaan kedua:

Kiri prima xp. bawah total. kanan amsoil. atas bimoli. Hanya amsoil yang terlihat berbuih.

Amsoil juga terlihat mendidih di percobaan pertama:

Entah mengapa. Kalau spekulasinya dari kandungan bahan ester. Ester punya sifat sebagai berikut:
Understanding Hydrolysis and Hydrolytic Stability

Minyak secara alami bersifat higroskopis, yang berarti mereka menyerap kelembaban dari udara. Kecenderungan minyak untuk mengalami proses ini dikenal sebagai higroskopisitas. Cairan tipe ester, terutama ester poliol dan fosfat , mudah menarik uap air dari lingkungan.

Jadi semua minyak akan menyerap air, tapi ester termasuk yang mudah menyerap.

Perlu jadi catatan bahwa oli amsoil diambil dari botol kosong yang sudah terbuka lama. Sementara itu redline dan castrol gpsnya merupakan NOS, barang lama kondisi utuhan. Sementara itu minyak goreng masih termasuk baru dibuka dari kemasan. Tapi uji ini juga menunjukkan bahwa bila benar itu air, maka airnya bisa menguap dari olinya.

Berikut video percobaannya:

Uji panggang ini belum lengkap. Belum dilakukan uji perbandingan pembersihan sisa kerak antar oli mesin. Karena ternyata oli mesin itu punya kemampuan bereaksi terhadap kerak juga ketika dipanggang. Sayangnya uji ini butuh lihat detil dan kamera tidak bisa terlalu didekatkan ke kompor. Jadi cuma bisa cerita walau proses ini direkam juga:

10 respons untuk ‘Hasil mengejutkan dari uji panggang oli 1-5: minyak goreng jauh lebih tahan oksidasi bahkan dibanding yang full sintetik!

  1. Kalau dicampur (oli dan minyak goreng) memang suara mesin jadi lebih halus. Itu karena tingkat oksidasi minyak tinggi, jadi gampang timbul kerak kalau sudah kena panas.

    “Karena banyaknya kerak yang dihasilkan, sehingga meredam suara mesin,” kata Chairul…

    Benar gak prof kata chairul itu?😁

    Suka

    • Kerak sifatnya adalah makin lama makin banyak. Kalau memang halusnya makin kerak, maka suara mesin makin lama makin halus. Faktanya tidak. walau sudah dicampuri minyak goreng, tetap makin lama makin kasar. Cuma beda di waktunya saja.

      Lagian di percobaan terlihat jelas bahwa kerak terjadinya tidak di bagian yang ada olinya. Bahkan yang prima xp yang paling cepat habis sekalipun, tetap bersih di bagian yang kena oli.

      Suka

  2. Kalau boleh request Bagaimana jika oli yg sama dipanaskan berulang secara periodik Mungkin ini lebih menyerupai keadaan mesin sebenarnya dimana oli dlm mesin dipakai dgn. panas yg berulang Perlu oli yg lebih banyak pastinya

    Suka

  3. Request dong, olinya Pertamina BRO, lalu pakai termometer tusuk, murahan saja gpp, sekedar biar ketahuan itu percobaan sampai suhu berapa, mendidih di suhu berapa.

    Suka

  4. Saya kutip dr artikel ini:

    “…tapi ketika terkena larutan sabun cuci bubuk, kerak dari minyak goreng jadi mudah mengelupas. Beda dari kerak oli mesin”

    Apa ini salah satu alasan pakai migor bisa membersihkan area dalam mesin?

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.