Meniru ngerem ala motogp mendahulukan rem depan harus tahu bahwa yang ahli pun gampang ndelosor kalau salah perkiraan


Penulis sering membahas bahayanya mengerem mendahulukan rem depan. Banyak yang komentar bahwa penulis bodo banget pakai rem depan saja nggak bisa. Memang sih alasan penulis adalah mengerem mendahulukan rem depan itu terlalu beresiko. Menurut penulis cara mengemudi yang safe itu harusnya tidak banyak menuntut keahlian. Penulis merasa kebutuhan skill untuk mendahulukan rem depan itu terlalu tinggi. Sementara itu intruktur safety riding Inggris dan beberapa pembaca berpendapat bahwa skill mendahulukan rem depan itu mudah dikuasai.

Penulis akan mencoba menggunakan beberapa contoh yang menunjukkan bahwa rider yang mata pencahariannya sangat bergantung pada kemampuan mengerem cepat tapi aman pun bisa salah perkiraan dan jatuh. Penulis pakai contoh pembalap motogp. Artikel ini juga sekaligus menunjukkan bahwa ketidak pedean Rossi terhadap ban depan Michelin yang terlalu empuk rangkanya itu masuk akal.

Penulis menggunakan video crash analysis yang dipublikasikan oleh channel motogp. Berikut untuk balapan di Argentina:

Marc Marquez dikatakan jatuh karena pemakaian rem depan saat trail braking. Dikatakan bahwa tidak banyak yang bisa dilakukan Marquez untuk mencegah crash. Itu terjadi dua kali, sama sama gara gara rem depan juga. Marquez tidak bisa menjelaskan penyebabnya apa:
Marquez unable to explain “really strange” Argentina crash

Penyebabnya mungkin seperti yang penulis jelaskan sebelumnya, berhubungan dengan carcass.
Valentino Rossi mengeluh soal carcass karena ban motogp sama sama soft compoundnya bisa beda handlingnya bila carcass beda, 18 April 2017
Salah mengartikan bisa jadi salah analisa problem ban Rossi karena carcass di ban itu bukan tekstur, daging ataupun kompon

Rossi menjelaskan bahwa ban Michelin yang baru terlalu mleot sehingga membuat Rossi nggak pede pada saat pengereman. Masalah terutama pada saat motor mulai miring.

Michelin pun akhirnya mengakui masalah tersebut:
MotoGP, Taramasso: Michelin 2016 front? Requested by many, Submitted by Matteo Aglio on Fri, 07/04/2017 – 18:13

Various riders and various bikes, with Honda and Aprilia as well as Yamaha and Suzuki…
“Yes, the riders talked about movement bothering them when going into a lean from an upright position. So we carefully analysed the data from the first Grand Prix”.

Dikatakan bahwa pembalap mengeluh terhadap mleotnya ban pada saat mulai memiringkan motor untuk menikung.

Marc Marqueznya sendiri juga bakalan mencoba:
Leading MotoGP riders still want to try the harder-specification front tyre that went unused in Argentina, but not during a race weekend, 2017-04-14

“Some guys have said, ‘Can you bring something harder?’, and I’m one of those guys,” Crutchlow confirmed. “Eight guys said in the last race [in Qatar] the front tyre was too soft.

“Looking at the data, what they say to us, this new tyre that got cancelled could be better for my riding style because it’s stronger, it can be better on the braking points,” added Marquez. “I want to try it.”

Dikatakan bahwa banyak pembakap mengeluh bahwa ban depan terlalu empuk (carcass / rangkanya), termasuk Crutchlow. Marquez juga berpendapat dari data ban baru (yang katanya untuk memanjakan Rossi), kemungkinan bisa membantu meningkatkan pengereman.

Jadi sangat beralasan bagi Rossi untuk tidak pede pakai ban depan Michelin yang carcassnya soft. Ini juga membuktikan bahwa keamanan tidak berbanding lurus dengan kepedean. Justru pede yang berlebihan itu yang bisa menyebabkan celaka.

 

Rekan satu tim Dani Pedrosa juga sama jatuh gara gara rem depan, ban depan lepas traksi di tikungan yang sama. Dani Pedrosa juga mengalami jatuh saat latihan, mungkin karena terlalu miring sehingga roda belakang terangkat dan lepas traksi. Penulis slow motion terlihat asapnya di sebelah kanan ban, dan bukan dibelakang.

Berikutnya juga Aleix Espargaro juga jatuh gara gara rem depan juga. Dikatakan bahwa jatuhnya tanpa peringatan sama sekali.

Juga ada Mattia Pasini yang mengalami lepas traksi ban depan dan mengalami low side.

Di video juga ditunjukkan Alex Marquez yang jatuh karena pemakaian rem belakang, ban belakang sliding, ekor terbuang, wobble lalu jatuh. Yang ini penyebabnya sepertinya sesuai dengan penjelasan berikut:
Power Braking

Then things get interesting indeed, as per the MSF Basic RiderCourse(tm) manual:
The biggest danger in any rear-tire skid is releasing the rear brake when the rear wheel is out of alignment with the front wheel. If the rear wheel stops skidding and resumes rolling when it is out of line with the direction of travel [i.e., if you release the rear brake], the motorcycle will immediately straighten and could result in loss of control. You could be thrown off in what is commonly called a “high-side” fall, and it is very likely to produce serious injury.

Dikatakan bahwa bahaya terbesar dari roda belakang yang terkunci atau ngelock adalah bila pada saat rem dilepas roda belakang tidak sedang sejajar dengan ban depan. Roda belakang yang berhenti sliding akan mendapatkan kembali traksi dan berputar ke arah yang tidak sama dengan ban depan, motor bisa langsung tegak dan menyebabkan lepas kontrol. Kejadian ini sering disebut jatuh high-side, dan bisa menyebabkan cedera serius.

Sepertinya ini yang jadi alasan anjuran berikut.
Safety riding mengerem mendadak mendahulukan rem depan itu sangat berbahaya, ngerem tidak bisa pakai angka rasio

US Motorcycle Safety Foundation – You and your motorcycle riding tips – Emergency Braking: If your rear wheel locks up, do not release the brake. If your handlebars are straight, you will skid in a straight line, which is all right.

Dikatakan bahwa lembaga keselamatan motor Amerika mengajarkan bahwa bila roda belakang terkunci, tuas rem jangan dilepas. Bila setirnya lurus, maka motor akan sliding lurus, tidak apa apa.

 

Sementara itu di video crash race sebelumnya di Qatar, juga banyak yang jatuh gara gara pemakaian rem depan.

Karel Abraham dikatakan jatuh karena traksi ban depan hilang karena pengereman rem depan.

Lalu berikutnya Johann Zarco jatuh karena pemakaian rem depan juga, padahal sedang memimpin lomba.

Maverick Viñales juga jatuh karena pemakaian rem depan, dikatakan tidak bisa berkutik.

Jonas Folger juga jatuh karena pemakaian rem depan juga.

Andrea Iannone juga jatuh karena pemakaian rem depan juga. Sepertinya karena mengerem mendadak untuk menghindari menabrak Marc Marquez.

Marc Marquez juga jatuh karena pemakaian rem depan juga.

Cal Crutchlow juga jatuh karena pemakaian rem depan juga.

Brad Binder juga jatuh karena pemakaian rem depan juga.

 

Contoh contoh diatas menunjukkan bahwa yang pede dengan pengeremannya pun bisa jatuh ndelosor. Mayoritas jatuhnya karena pemakaian rem depan. Jadi harap maklum bila penulis berpendapat bahwa mengerem mendahulukan rem depan itu beresiko.

 

Bila ingin tahu motor dan sponsor pembalap yang celaka diatas, data pembalap motogp bisa dilihat di link berikut:
MotoGP rider profile

Iklan

27 thoughts on “Meniru ngerem ala motogp mendahulukan rem depan harus tahu bahwa yang ahli pun gampang ndelosor kalau salah perkiraan

  1. Jngan samakan dengan moto gp om
    Rem depan 2cakram sekali sentuhan itu udah brasa ngeremnya cukup pakai 2jari gk perlu kenceng2.
    Biasanya pembalap terjatuh krena kesalahannya sendiri mungkin dia panik kemudian tekan rem spontan otomatis roda depan terkunci.
    Klo saya pakai sehari hari mocil boleh saja dahulukan rem depan, tapiiii..,
    kita harus kuat2 pegang stang motor untuk mengurangi resiko jatuh
    Dan biasakan mengerem sebelum masuk tikungan ( lepaskan rem saat motor memasuki tikungan tpi perkiraan kecepatan juga harus pas tergantung kondisi yg d inginkan) 😁😁😁

    Suka

    • Mocil maksudnya skuter matik atau bebek? Justru skuter yang lebih berat bodi belakang yang pakai rem depan lebih berbahaya. Saya pernah baca ada petunjuk turis untuk tidak menyewa motor matik karena banyak yang kecelakaan.

      Ban depan bisa ngelock bukan hanya saat panik saja namun juga pada saat kita salah memperkirakan kondisi jalan. Pada contoh motogp, pembalap banyak yang salah memperkirakan kondisi ban depan yang punya carcass soft.

      Iya, mengerem sebaiknya sebelum tikungan.

      Suka

    • Cakram ganda kaliper besar malah berbahaya om untuk orang yg tidak terlatih. Memang memangkas jarak pengereman tapi juga power pengereman jadi lebih tinggi. Saya pernah tuh hampir ditibanin motor 600 cc gara” over power pas braking. Udah pegang stang kuat” tapi gak kerasa ban belakang udah naik tinggi banget. Bisa jadi tahu gejrot kalo gak luck. Untung masih luck sehingga terhindar dari kecelakaan

      Suka

  2. No offense. Just sharing. Udah dua tahun pake r15 kampas belakang gak pernah ganti dari awal motor turun dari dealer, ban belakang pun aman alur masih tebal. Saya bahkan dari dulu membiasakan rem tanpa rem belakang.

    Akibatnya sih jelas ban depan cepet bgt abis, kampas rem depan juga bebannya dobel karena jd tulang punggung pengereman. Tp efeknya, kalo terjadi panic brake (tapi harus dibarengin skill and feel yg pas waktu engine brake) justru motor bisa berhenti sempurna tp gak kehilangan traksi.

    Saya gak bilang saya jago atau skillfull lho ya, cuma pengalaman pribadi pernah beberapa kali sblm pake motor fairing ngerem pake depan belakang pas panic brake malah ngesot jatuh. Akhirnya saya ngelatih diri buat pake rem depan doang.

    Tipsnya gampang2 susah dan ada beberapa konsekuensi, diantaranya :
    1. Titik pengereman jd lbh jauh dari seharusnya (kalo pake depan belakang)

    2. Waktu hard braking (beda dgn panic) semua beban otomatis tertumpu di tangan. Jadi jauh lbh cepet pegel.

    3. Harus pinter main engine brake. Salah2 malah high side repot ntar.

    4. Ban depan abisnya gak rata sama ban belakang.

    5. Kampas rem depan yg harusnya bisa buat 2-3 bulan, kadang 1.5 bulan udh menipis.

    Suka

    • Ok. silahkan berpendapat. Ada beberapa pertanyaan

      – apakah saat pakai rem tekanan yang diberikan makin lama makin kuat?
      – saat mengerem, apakah mudah untuk membuat ban bunyi cit cit cit tapi tanpa selip?
      – apakah sehari hari pernah lewat tikungan agak panjang yang kadang licin, atau cuma jalan lurus saja?

      Kedua yang pertama merupakan teknik untuk bisa mengerem dengan maksimal. Dan dari yang saya tahu, banyak yang mengerem tenaganya sama terus, lalu mengerem tidak berusaha mendekati limit kemampuan pengereman roda.

      Untuk jawaban:

      1. pemakaian rem depan saja harusnya jarak pengereman tidak jauh berbeda dari bila pakai depan dan belakang.
      2. mungkin itu lebih karena posisi mengemudi R15 yang menunduk.
      3. Iya, engine brake juga ada tekniknya. Kalau pas bisa membuat ban cit cit cuma sebentar.
      4. wah, rasanya itu ngeremnya terlalu sering ekstrem
      5. mungkin perlu coba merek lain.

      Suka

      • Sebenernya teknik ini udah saya pake semenjak masih di semarang dulu (skrg sudah tinggal di jkt). Dari jaman sering turing ke tawangmangu yg banyak bgt tikungan hairpin atau sekedar riding kencang di dalam kota (semarang banyak tikungan panjang) teknik ini saya rasa masih aman untuk saya (karena tiap org walau bukan pembalap pun punya gaya berkendara yg beda2).

        Kalo masalah titik pengereman, jelas berbeda dan itu jg dipengaruhi gaya berkendara. Saya walaupun seneng ngebut tp gak yg tipe terlalu push limit masalah pengereman alias suka rem mendadak karena bagaimanapun bisa membahayakan diri sendiri (biasa aja orang di belakang kita ngelamun, kita ngerem mendadak malah kita yg ditabrak dari belakang). Jadi kalo saya mengubah titik pengereman menjadi lbh jauh, itu lbh ke alasan safety dan supaya waktu masuk tikungan lbh smooth.

        Kalau masalah r15 yg terlalu nunduk saya rasa tidak. Bagaimanapun saat ngebut lalu kita menekan tuas rem, ada gaya reaksi yg sesungguhnya itu untuk menahan laju motor kita. Semakin kenceng kita nyetir, semakin cepat dan semakin dalam tuas rem ditarik pasti gaya reaksinya jd makin besar. Kenapa saya katakan jd makin pegal? Karena memang faktanya ketika kita melaju ke depan dgn gaya F-> dan kita hanya ngerem dengab rem depan maka yg memberikan gaya yg arahnya berkebalikan dan besarnya gaya <-F maka beban area depan (termasuk ban dan suspensi) makin besar sehingga tangan yg berfungsi untuk memegang kendali jg merasakan efek dari gaya tsb.

        Suka

        • Ok. menurut saya bila nyetir kencang, ngeremnya juga harus bisa bisa kencang juga. Bukan untuk dipakai kebiasaan ngerem mendadak selagi nggak perlu, tapi saat harus bisa berhenti butuh cepat. Sehingga saat orang yang jalan pelan ngerem, kita yang sedang jalan kencang tetap bisa ngerem sama cepatnya juga. Tentu kalau kencang seringnya nggak ada yang bisa ngikuti di belakang.

          Aman, bukan dari sisi tidak jatuh saat mengerem juga, tapi aman dari sisi kita mengerem bisa cepat berhenti. Sisi cepat berhenti inilah yang perlu dipikirkan. Mmengerem rasanya mantap belum tentu berhentinya cepat. Bisa jadi terasa mantap tapi berhenti masih kurang cepat. Berhenti lebih cepat ini yang membuat rasa ngeri muncul bila mendahulukan rem depan.

          Oleh karena itu bisa terjadi orang yang mengandalkan rem depan berhentinya jadi kurang cepat. Karena saat menekan rem takut mau menekan rem maksimal. Tenaga juga nggak berani ditambah, karena memang rasanya lebih ngeri.

          Setuju, mengerem makin kuat akan membebani tangan makin kuat juga. Kalau di bebek atau matik, kaki masih di depan badan sehingga bisa membantu untuk menegakkan badan.

          Suka

  3. Mendahulukam rem blakang?

    Sorry rem blakang motor sya gak sbrapa pakem jd tetep depan yg utama, belakang hanya support

    Bisa rem blakang diinjak agak dalem baru pakem, tp efeknya di keseimbangan motor jd keganggu

    Sorry bukan motor matic y yg rem blakangnya d tuas kiri

    Suka

    • Soal ini banyak yang salah paham. pengereman itu bertahap. Saat sebelum mengerem grip ban depan masih belum maksimal, baru setelah mengerem grip ban depan makin kuat. Jadi ban depan baru pakem setelah pengereman terjadi.

      Itu sebabnya pengereman harus dilakukan bertahap, itu sebabnya kerja rem ABS nggak langsung mentok:
      Mengerem mendadak pun tidak bisa dilakukan tiba tiba, harus dengan halus transisinya, ini kurang ditekankan di safety riding

      Jadi nggak penting rem belakang nggak pakem, karena pemakaian pertama rem depan pun nggak boleh terlalu pakem. Rem belakang hanya dipakai untuk mengawali rem depan saja. Sesudah ban depan menggigit baru rem depan dibetot lebih keras.

      Suka

      • Ada point yg sya anggap menggeneralisasi yg malah bikin rancu dan salah nangkep biker awam/newbie

        “Contoh contoh diatas menunjukkan bahwa yang pede dengan pengeremannya pun bisa jatuh ndelosor. Mayoritas jatuhnya karena pemakaian rem depan. Jadi harap maklum bila penulis berpendapat bahwa mengerem mendahulukan rem depan itu beresiko.”

        Ada kesan klo mengerem menggunakan (mendahulukan) rem depan beresiko jatuh

        Saya setuju klo pengereman itu bertahap gak langsung melakukan tekanan pd tuas rem depan tekanan tinggi

        Diawali mengubah distribusi bobot kedepan, bisa dengan nutup gas (enggine brake) atau sentuh pedal rem blakang. Sya lbh pilih enggine brake spersekian detik bobot motor akan mendorong kedepan dan suspensi depan mulai turun disitu rem depan mulai ditekan

        Ditekan pun gak serta merta hardbraking tp secara mantap (dan bertahap) sampai kecepatan berkurang sperti yg diinginkan diikuti trail braking dan dilepaskan perlahan saat mulai menikung

        Paragraf yang saya kutip itu yg sya kurang sependapat

        Suka

        • Justru itu yang ingin saya ungkapkan. Mengerem mendahulukan rem depan dulu itu jauh lebih beresiko. Sebelumnya sudah beberapa kali saya bahas.

          Ini riset yang menunjukkan ngawur dan bahayanya ajaran safety atau defensive riding mendahulukan rem depan dan melarang menaruh jari di tuas rem

          Dari banyak pembaca yang menggunakan rem depan dulu, rasanya jarang ada yang menggunakan pengereman bertahap. Jadi dari awal sampai akhir tenaga yang dipakai sama. Mereka juga tidak berusaha mengerem mendekati limit. Memang yang begini nggak bikin jatuh, tapi jarak pengereman jadi lebih panjang. Karena memang kalau pakainya rem depan dulu untuk melakukan bertahap itu rasanya ngeri. Bila mereka pakai rem ABS, maka jarak pengereman akan sangat jauh lebih pendek.

          Jadi mendahulukan rem depan itu antara dilema takut jatuh sehingga menekan terlalu lemah dan tidak dikuatkan, atau sebaliknya berani mendekati limit tapi bisa jatuh bila kondisi jalan/ban tidak sesuai prediksi.

          Tentu, kalau pakainya nyantai, ngerem nggak butuh cepat, pakai rem depan juga bisa aman.

          Engine brake memang bisa membantu, namun menurut saya bisa lebih susah daripada bila pakai rem belakang, karena:

          – nggak semua motor engine brakenya bagus, contoh matik, engine brake hampir nggak ada. Juga untuk motor 2 tak, atau misal GSX-R150 yang banyak yang komen engine brake hampir tidak ada.
          – engine brake butuh skill. Bila tanpa skill justru lebih bahaya / merusak mesin. Pengereman mendadak bisa butuh beberapa kali shift down, dan rider harus bisa sempurna dan selalu pas. Dibuat ngecit sebentar lalu ngegrip lagi.
          – tetap membebani mesin dan kampas kopling. rem belakang biaya ganti lebih murah daripada kampas kopling.

          trail braking sebaiknya tidak dipraktekkan di jalan. Kondisi jalan tidak dijamin selalu sempurna macam di sirkuit balap.

          Sebelumnya saya ada sekitar 15 video youtube yang menunjukkan celaka karena pemakaian rem depan, padahal itu carinya nggak pakai kata kunci rem depan.

          Safety riding mengerem mendadak mendahulukan rem depan itu sangat berbahaya, ngerem tidak bisa pakai angka rasio

          Suka

  4. Saya bilang gak bisa sembarangan pake rem depan keuntungan sih ada tetapi kekurangan kalau miss kalkulasi juga banyak. Saya ikut komunitas cornering pelan” kenal pengereman rem depan full lalu kenal trail braking dan yg akhirnya saya praktekan dijalan malah kombinasi engine brake+blipping, rem depan belakang melihat kondisi jalan. Alhamdulillah terhindar kecelakaan motor nyelonong masuk jalur sembarangan padahal jarak terlalu dekat. Jadi poinnya menurut saya pengereman itu lihat dahulu medan yg dihadapi gak melulu rem depan dominan.

    Suka

    • Iya. rem depan memang lebih dominan, namun untuk mengawali tetap saja tidak boleh terlalu keras menekannya, harus pelan dulu. Dan di tahap pelan dulu ini bisa digantikan dengan rem belakang sehingga resiko ngerem depan berlebihan jadi berkurang.

      Suka

  5. Semuanya pada bahas teori masing2, tapi tidak menyinggung sama sekali bagaimana karakter dan feel braking system dari masing2 Brand/Pabrikan, menurut ane hal ini juga sama pentingnya karena dapat mempengaruhi behaviour kita dalam melakukan pengereman, karena masing2 pabrikan punya karakter dan feel pengereman yg berbeda-beda, lantaran punya filosofi yg berbeda pula. Tapi kalo mau buat perbandingan musti ngerasain dulu masing2 motor dari tiap2 pabrikan, inilah kendalanya, hehehe….

    Suka

    • Iya, agak berbeda dengan motogp, sangat baik bila yang mengajari safety riding itu mencoba sendiri apa teknik mereka bisa diterapkan di semua motor. Bila pegangannya tiap hari motor cc besar pakai ABS, maka jangan mengajari yang pakainya motor matik pakai CBS.

      saya pernah debat dengan intruktur safety riding inggris soal bahayanya pakai mati honda yang pakai CBS, intruktur malah bilang begini:

      I know about linked braking systems and would never ride a bike with one fitted as I consider them to be dangerous. I am sorry to hear you are stuck with one. Poor you.

      Jadi bukannya ngasih solusi agar bisa ngeremnya aman, tapi malah menghina. Padahal dianya juga tahu di thailand sana banyak juga pemakai honda dengan CBS.

      Suka

      • Makanya Om, ane lebih suka motor yang mampu memberikan feel pengereman dan memberikan feedback yang baik kepada pengendaranya, karena dg feedback dan feel rem yg baik secara langsung akan membuat kita menjadi lebih percaya diri dalam mengendarai motor, tapi…. Disitulah kelemahannya, ketika pindah motor brand lain yg pengeremannya gak enak feelingnya, misalnya di tarik tuas rem rasanya kurang pakem, begitu ditambah tenaga malah terlalu pakem, hal ini berpotensi membahayakan pengendara, maka dari itu memang benar memahami karakter braking sistem tiap2 brand motor itu juga diperlukan demi tercapai berkendara yang aman.

        Suka

        • Iya, setuju. idealnya kita bisa fasih menggunakan rem di motor yang kita pakai. Bila tidak, maka pemakaian teknik yang membutuhkan kefasihan tingkat tinggi harus dihindari, dan lebih baik cara yang aman walau nggak fasih

          Suka

  6. Sering dihiraukan perawatan rem motor. Kita seringan ganti oli mesin dsbnya. Padahal kuras minyak rem itu penting utk safety dan tentu saja ban motor tiap 2 tahun diganti saja. Salah sih ya kalau hanya melihat botak keausan ban. Itu karet tiap hari dipukul lubang jalan pasti sudah tdk rata.

    Suka

  7. […] Jalan raya memang nggak bisa disamakan dengan sirkuit balap. Di sirkuit balap jalannya dijamin bersih, apalagi motornya selalu pakai ban slick yang jauh lebih pakem. Kemungkinan untuk terpeleset sedikit. Tapi toh tetap saja bisa terjadi low side fall, jatuh gara gara kesalahan pemakaian rem depan: Meniru ngerem ala motogp mendahulukan rem depan harus tahu bahwa yang ahli pun gampang ndelosor kala… […]

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s